Habis Gelap Terbitlah Terang

Eitss, ini bukan tentang Hari Emansipasi wanita yahh, ini juga bukan tentang sosok perempuan inspiratif yang membuka cakrawala masyarakat Indonesia tentang isu kesetaraan gender. Tulisan ini akan membahas tentang perjalanan penulis selama berada di negeri ‘Serambi Mekkah’. Yaps, kota Banda Aceh.

Siapa sih yang tak tahu keberadaan Banda Aceh? Kota dengan sejuta misteri bencana alam yang terjadi sekitar 14 tahun yang lalu. Kota yang dalam hitungan jam luluh lantah karena amukan air bah yang tak terhindari. Rasanya masa-masa itu merupakan masa kelam bagi seluruh masyarakat Indonesia terlebih masyarakat Banda Aceh itu sendiri. Tapi, masa kegelapan itu sudah tergeserkan dengan beberapa perkembangan infrastruktur dan keelokan negeri yang lainnya.

Mari kita mulai dengan mengunjungi tempat yang masih berdiri kokoh pasca bencana Tsunami, Masjid Baiturrahman. Masjid Baiturrahman yang berada di tengah kota Banda Aceh telah mengalami banyak perbaikan terutama di sisi depan masjid. Masjid tersebut telah dilakukan renovasi dengan menambahkan payung-payung raksasa seperti di Masjid Nabawi. Selain itu, akan dibangun sebuah kolam kecil yang (mungkin) terinspirasi dengan Taj Mahal di India dengan aliran air di deoannya. Sungguh masjid ini mengalami banyak renovasi demi mempercantik rumah ibadah yang juga ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar.

Rasanya tidak pas jika mengunjungi Masjid Baiturrahman tetapi tidak mengunjungi masjid Baiturrahman yang berada di daerah Ulee-Lhe. Mengapa masjid ini wajib dikunjungi? Tahukah kalian bahwa Masjid Ulee-Lhe ini terletak di bibir pantai yang merupakan daerah pertama yang terkena bencana Tsunami tahun 2014 lalu. Masjid yang terletak di bibir pantai ini masih berdiri tegak, meski terdapat beberapa bagian yang rusak dikarenakan hantaman air laut, dengan kubah yang masih utuh. Memang sedikit tidak masuk akal takkala mengetahui masjid yang tidak terlalu besar tetap kokoh berdiri setelah diterjang oleh gelombang air laut setinggi hampir sepuluh meter. Wallahu a’lam.

Salah satu landmark terbaru yang dimiliki Banda Aceh pasca bencana tragis tahun 2014 ialah Museum Tsunami. Bangunan cantik ini ternyata merupakan desain dari Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Bangunan tersebut didirikan dalam rangka mengenang kejadian mahadasyat yang menorehkan luka mendalam bagi masyarakat setempat. Di dalam Musem, pengunjung akan diakan menelusuri terowongan yang didesain khusus menyerupai suasana ketika Tsunami terjadi. Lorong gelap dengan beberapa teriakan warga serta diiringi gemericik air sehingga menambah perasaan cemas ketika melewati lorong gelap tersebut. Selain itu, juga terdapat sumur doa yang di dalamnya terdapat nama-nama korban bencana alam baik yang mayatnya ditemukan atau pun hilang.

Selain itu, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan tempat satu dengan yang lain dengan banyak bendera negara yang turut membantu Indonesia pasca Tsunami. Rasanya tidaklah lengkap jika mengunjungi Museum Tsunami namun tidak memasuki ruangan teater untuk menonton video pendek tentang Tsunami Aceh. Penonton akan disuguhkan video singkat yang kira-kira berdurasi 10—15 menit. Untuk masuk Museum Tsunami, penunjung dibebaskan dari biaya masuk. Namun, pengunjung dituntut untu menjaga kebersihan lingkungan maupun properti yang ada di dalam museum.

Selain Museum Tsunami, terdapat banyak bangunan bersejarah yang tak kalah menarik seperti boat di atas rumah, UPTD Kapal Apung, Kuburan Masal, dan masih banyak lainnya. Terdapat banyak bangunan bersejarah yang dijadikan sebagai memoriam mengenang bencana terdasyat yang pernah melanda Bumi Serambi Mekkah. Bangunan-bangunan bersejarah itu dibuat sebagai pengingat kepada saudara-saudara yang telah tiada maupun sebagai pengingat agar selalu bersyukur kepada Tuhan, sang pencipta alam.

Demikian jalan-jalan di Banda Aceh. Jika teman-teman berkesempatan mengunjunginya, sempatkanlah untuk mampir sekedar melihat-lihat ke tempat-tempat bersejarah atau sekedar mencicipi kuliner khas Aceh yaitu Mie Aceh. Selamat berkunjung.

Iklan