Sejarah Milik Siapa?

‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan-pahlawannya’. Kutipan tersebut diambil dari salah satu pidato kepresidenan Ir. Sukarno pasca kemerdekaan. Bapak Sukarno menyerukan untuk seluruh elemen masyarakat agar menghormati pahlawan-pahlawan yang telah gugur di medan perang. Tujuannnya bukanlah ingin menaikkan pamor para pejuang, melainkan lebih pada esensi kehidupan untuk turut serta berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam mencapai sebuah kemenangan di masa silam. Pahlawan bukan hanya sekedar gelar, melainkan sebuah kebanggaan yang haqiqi atas sebuah bangsa.

Terdapat banyak permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini tentang sekumpulan anak yang bersikap tidak sopan terhadap sebuah monumen perjuangan atau bahkan terhadap patung pahlawan revolusi. Kejadian ini menjadi tamparan besar bagi bangsa ini karena kurangnya jiwa nasionalisme dalam mencermati dan mengenang jasa-jasa pahlawannya. Lalu, salah siapa? Salah siapa jika mereka melakukan hal ynag tak terpuji seperti itu? Lantas, apa yang seharusnya bangsa ini perbuat agar para pemuda tak lagi melakukan hal tak baik seperti itu?

Indonesia merupakan salah satu negara besar yang menyimpan jutaan cerita di masa lalu. Tentang kerajaan-kerajaan yang telah menyebar ke penjuru dunia tentang kehebatannya. Cerita mengenai legenda atau cerita rakyat yang tak hanya dibaca oleh orang Indonesia saja. Tentang pengorbanan dan perebutan wilayah atas kependudukan bangsa asing di Indonesia, dan beberapa cerita menarik lainnya. Adakah diantara penduduk Indonesia yang tak mengenal tentang sejarah Indonesia? Banyak. Terdapat banyak penduduk yang ketika ditanya mengenai sejarah Indonesia, mereka mengaku hanya sedikit yang diketahui. Sekedar mengetahui bapak proklamator dan pada tanggal berapa Indonesia merdeka.

Ironisnya, kejadian-kejadian seperti itu lantas tak membuat para pembuat kebijakan (sebut: pemerintah) menyadari bahwa rakyat Indonesia membutuhkan lebih banyak pengetahuan tentang asal usul negaranya. Ada banyak sejarah Indonesia yang ditutup-tutupi, yang sengaja tidak disebarluaskan dengan alasan tertentu. Banyak sejarah Indonesia yang sengaja dibungkam atas nama kemanusian, kesatuan dan beberapa alasan ilmiah lainnya. Hal itu menyebabkan masyarakat memiliki jiwa nasionalisme yang rendah ketimbang negara lain.

Sebut saja tentang pembantaian masal pada peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965. Tak pernah ada yang tahu pastinya mengapa kejadian ini muncul, banyak yang menyebutkan bahwa organisasi komunislah yang berusaha menentang kedaulatan negara Indonesia, sehingga mereka merupakan ancaman besar bagi keutuhan NKRI. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk kekejaman rezim pada jamannya. Tidak ada yang mengetahui pasti mengapa dan siapa yang bersalah pada pembunuhan besar-besaran ini. Pada jamannya, setiap tanggal 30 September selalu diperingati bersama untuk mengenang jasa pahlawan revolusi yang telah gugur dalam medan pertempuran melawan para komunis Indonesia. Indonesia memperingati dengan cara menonton bersama tentang film G 30 S/PKI.

Di sinilah sejarah mulai dibentuk, tentang bagaiamana sebuah kejadian terjadi, kepada siapa kita seharusnya menyalahkan, tentang siapa orang yang berjasa, orang yang bersalah, melalui sejarahlah kita mengetahui tentang praktek-praktek kekuasaan. Foucault, seorang ahli bahasa, seringkali mengatakan bahwa kekuasaan selalu berjalan beriringan dengan seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dikuasai. Semakin berkuasa orang tersebut, semakin banyak peluang tentang manipulasi ilmu pengetahuan. Tidak ada yang pernah tahu kepada siapa sejarah memihak. Banyak yang mengatakan bahwa sejarah hanya dibuat oleh sang pemenang saja, yang kalah lantas dibuat sangat mengerikan seakan-akan mereka adalah pusatnya kerusuhan.

Contoh lainnya tentang kejadian Holocaust pasca perang dunia pertama. Semua negara di dunia mengatakan kesepakatannya bahwa Hitler merupakan orang yang paling bersalah dalam kejadian genosida terbesar sepanjang sejarah. Banyak bukti-bukti yang mengatakan bahwa Hitler merupakan makhluk paling kejam yang tega membunuh jutaan manusia tak berdosa pada jamannya. Andai saja Hitler dan pengawalnya masih hidup, mungkin aka nada banyak orang yang memburunya saat ini untuk mengungkap kebenaran yang ada. Siapa yang pernah mengira bahwa Hitler memberontak karena ingin membela kaum buruh? Siapa yang mengira bahwa aksi tindakan Hitler merupakan bentuk perlawanan terhapak kolonialisme? Tak pernah ada yang mengira seperti itu. Lagi-lagi, tidak ada yang tahu kebenaran atas sebuah peristiwa.

Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin keabsahan sebuah sejarah yang terjadi di masa lalu, entah itu benar atau hanya rekonstruksi sejarah pun kita tak pernah tahu. Namun demikian, sejarah tetaplah sejarah, sejarah tetaplah masa lalu yang harus dikenang untuk menantisipasi kejadian serupa di masa lalu. Sejarah diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Indonesia agar tak lagi melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Sejarah berfungsi sebagi pengenang atas jasa-jasa dan pengorbanan orang-orang terdahulu dalam merebut dan mempertahankan Indonesia. Sejarah akan tetap menjadi sebuah kenangan baik ataupun kelam. Seperti kata Bapak Didi Suryadi ‘Indonesia memang punya banyak masalah, tapi jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini’.

Memupuk nasionalisme bukan hanya dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, bukan tentang menghapalkan pancasila atau undang-undang dasar. Nasionalisme tercipta ketika terciptanya empati atas sebuah permasalahan yang pernah terjadi di masa lalu sebagai pembelajaran. Sejarah merupakan sarana yang paling efektif untuk menunjukkan sikap nasionalisme kita, karena dengan mengetahui sejarah kita bisa mengerti tentang makna sebuah perjuangan, pengorbanan, hingga kesengsaraan hidup.

Iklan