Pesona Tradisional Desa Sade

 

 

Pesona desa adat Sade merupakan pancaran tersendiri ketika berada di Pulau Lombok. Tak lengkap rasanya jika berkeliling ke pulau Lombok tapi tidak mampir di desa adat tersebut. Desa adat ini memang sengaja dilestarikan sebagai daya tarik wisatawan yang ingin mengetahui sejarah dan adat dari suku Sasak, sehingga segala bentuk kegiatan harus tetap menjunjung tinggi adat istiadat yang berlaku.

Desa Sade merupakan desa adat tertua untuk suku Sasak yang masih ada dan menjunjung tinggi adat setempat. Desa adat Sade berada di wilayah Rembitan, Lombok Timur. Luas wilayah tersebut sekitar tiga hekto are (3ha) yang dihuni oleh sekitar 7000 orang. Rumah-rumah penduduk juga masih menggunakan rumah tradisional suku Sasak.

Rumah tradisional suku Sasak masih sangat sederhana. Mereka masih menggunakan alang-alang kering sebagai atap rumah yang bisa bertahan selama kurang lebih lima tahun. Selain atap rumah, masyarakat setempat juga masih menggunakan bahan tradisional sebagai pondasi rumah yakni sekam (kulit padi) yang dicampur dengan tanah. Untuk perawatan, masyarakat secara rutin mengepel lantai menggunakan kotoran Sapi atau Kerbau yang dipercaya bisa menambal lantai yang retak karena cuaca yang terlalu panas, bisa untuk menguatkan pondasi lantai, untuk mencegah nyamuk juga.

Setelah melalui pintu gerbang utama, pengunjung akan disajikan pemandangan sebuah balai pertemuan yang berfungsi sebagai tempat berkumpul ketika ada acara tertentu ataupun acara keluarga. Balai pertemuan ini dinamakan ‘Berugak’. Antarsatu keluarga dan yang lainnya masih merupakan saudara karena suku Sasak tidak diperkenankan dengan orang diluar suku, sehingga satu desa masih merupakan sanak saudara.

Yang membuat desa Sade ini menarik yaitu tentang perempuan. Tentu saja membicarakan tentang perempuan merupakan pembahasan yang sangat menarik dan tiada batas akhir. Perempuan yang didalih merupakan permata kehidupan selalu menjadi sorotan utama dalam kehidupan sehari-hari, begitu lah kehidupan perempuan di desa Sade. Para perempuan memiliki batasan-batasan yang harus dijalankan takkala mereka dilahirakan di desa Sade.

Pertama, perempuan-perempuan suku Sasak di desa Sade hanya diperbolehkan sekolah hingga jenjang sekolah menengah atas. berbeda dengan laki-laki, mereka diperbolehkan melanjutkan kuliah hingga ke jenjang universitas. Jadi, tugas utama perempuan setelah lulus sekolah menengah atas yakni belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak-anak generasi pendatang.

Kedua, perempuan di desa Sade diwajibkan untuk bisa menenun karena hal itu merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang ibu rumah tangga nantinya. Apabila ada perempuan yang tidak bisa menenum maka ia tidak diperkenankan untuk menikah.

Ketiga, desa Sade juga mengenal istilah ‘apel’ yang juga berarti kunjungan laki-laki ke rumah perempuan dengan maksud ingin mengenal lebih dekat atau sekedar bercengkrama. Ketika ada laki-laki yang sedang apel, perempuan tidak boleh menolak ajakan untuk ngobrol bersama.

Keempat, desa Sade menganut adat ‘kawin culik’ yang berarti si pria harus menculik perempuan sehari sebelum adanya prosesi lamaran. Sang perempuan dibawa ke rumah keluarga si pria yang bertujuan untuk menginap semalam sehingga besoknya sang perempuan tersebut akan dipulangkan bersama rombongan keluarga laki-laki yang berniat ingin meminang sang putri.

Masih tentang kawin culik, terdapat sebuah pohon cinta yangmana digunakan sebagai tempat janjian ketika terdapat pasangan yang akan melaksanakan pernikahan. Pohon tersebut terletak di sekitar rumah penduduk namun berasa di bagian belakang, sehingga pemilik rumah tidak bisa mengintip atau mengetahui jika ada dua insan yang sedang bertemu.

Pasca menikah, pasangan suami istri diharuskan meninggalkan rumah keluarga karena dalam satu rumah tidak diperkenankan ada dua kepala keluarga. Apabila pasangan suami istri tersebut belum memiliki rumah sendiri, penduduk desa menyediakan sebuah rumah khusus yang bernama ‘Rumah Bulanmadu’. Rumah ini hanya sepetak ruangan dengan lampu di luar ruangan. Rumah ini juga dijuluki ‘Rumah Seribu Jendela’ karena dinding rumah yang terbuat dari sesek bambu. Dikarenakan struktur anyaman bambu yang tidak rata dan berlubang menjadikan rumah tersebut bisa diintip dari celah-celahnya.

Tak hanya dindingnya, masyarakat setempat juga meletakkan lampu di luar rumah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui jikalau ada seseorang yang mengintip proses bulanmadu pasangan baru. Jika lampu diletakkan di luar, dari dalam bisa nampak jelas bayangan yang ada di luar, sehingga bisa menjadi kewaspadaan pasangan baru agar tidak diintip.

Selain tentang perempuan, desa Sade juga dikenal karena adat istiadatnya. Desa Sade memiliki satu lumbung penyimpanan padi untuk sekitar lima hingga enam keluarga. Letaknya di atas dan diikat sebuah tali untuk mengusir tikus dan hama lainnya. Lumbung diletakkan di tengah-tengah rumah penduduk dengan posisi rumah panggung, sehingga ketika akan naik penduduk harus menggunakan tangga untuk mencapai lumbung.

Begitulah sekilas penjelasan mengenai desa Sade, desa tertua yang dihuni oleh suku Sasak di wilayah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Terkadang terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari, namun itulah adat. Adat bukanlah menjadi pembeda antara orang dahulu dengan sekarang, melainkan sebagai pemersatu dan keberagaman Indonesia.

Iklan