Cerita Relawan

Beberapa hari yang lalu (05 Maret 2016) aku mengikuti salah satu pelatihan yang diadakan oleh salah satu lembaga yang ada di kampusku. Lembaga ini adalah lembaga yang menangani tentang penelitian, pengembangan sumber daya manusia melalui sektor pengabdian masyarakat. Aku rasa setiap universitas akan memiliki lembaga ini untuk mengatur supaya para sivitas akademika juga merasakan bagaimana mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki untuk linkungan sekitar. Sedikit cerita menggelitik yang aku alami selama sekitar 10 jam bersama dengan calon-calon relawan, baik relawan lama ataupun relawan baru. Kami pun berkumpul dalam sebuah ruangan yang terletak di lantai 3 Rumah Singah kampus dua Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan menghasilkan banyak cerita menghibur, baik itu menyenangkan, menjengkelkan, atau bahkan mengharukan.

Cerita pertama yaitu mengenai kejengkelanku terhadap salah satu relawan yang bisa dibilang senior. Sebut saja nama relawan tersebut dengan “Bunga”. Iya dia perempuan, hingga akhirnya aku memenggilnya mbak menurut adat kesopanan orang Jawa. Karena diharuskan duduk berkelompok, akhirnya aku memilih teman-teman yang berasal dari satu jurusan, Bahasa dan Sastra Inggris. Tapi, ada salah satu dari anggota kelompokku yang bukan berasal dari jurusan yang sama, sebut saja namanya Indah jurusan Manajemen. Cerita dimulai ketika salah satu meja relawan yang lama dibubarkan sehingga relawan-relawan tersebut menyebar ke setiap meja yang berisi tentang relawan-relawan baru. Awalnya aku senang dengan keputusan ini, mengapa? Karena dengan begini kami bisa lebih mengenal relawan-relawan lama yang tentunya memiliki lebih banyak pengalaman dari kami yang masih baru, yang masih mau belajar untuk mencari pengalaman lebih.

Hingga tiba di salah satu diskusi mengenai topik kesukarelawanan, sebuah perselisihan kecil antara aku dengan mbak Bunga pun terjadi. Awalnya aku hanya menanyakan tentang kejelasan dari istilah kata yang dimaksudkan, karena kurasa yang aku katakana itu sudah spesifik dan cukup beralasan, tapi tidak menurut sudut pandang mbak Bunga.

lahh, tujuan saya mendaftar jadi volunteer kan untuk mencari pengalaman yang berarti, mbak. Jadinya saya akan mendapatkan banyak pelajaran yang nantinya bisa berguna untuk diri saya dalam menghadapi sebuah permasalahan”

laah iya dek saya paham. Tapi, tujuanmu itu kurang spesifik, pengalamanmu loh masih abstak, ganti lagi ayo dicoba”

Lohh, kan pengalaman itu abstrak makanya saya gabisa menspesifkkan artinya pengalaman, mbak? Kan kita juga gabakal tau apa yang akan di dapatkan selama menjadi sukarelawan, kadang berharap A ternyata malah dapat B atau bahkan dapat C. Trus kalo gitu gimana mbak?” tanyaku dengan nada yang sedikit heran.

Entah mengapa tiba-tiba mbak Bunga pergi meninggalkan meja kami, dia merasa bahwa masih ada satu volunteer lagi yang bisa menemani, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Karena kurasa aku belum mendapatkan jawaban sesuai dengan pertanyaanku, aku akhirnya berpaling ke mbak volunteer satunya yang duduk di seberangku. Aku jadi merasa bahwa mbak Bunga kurang sabar dalam menghadapi beberapa pertanyaan yang aku ajukan, sehingga dia meninggalkan kelompok kami dengan beberapa pertanyaan yang belum dijawab olehnya. Setelah beberapa lama berdiskusi dengan mbak volunteer lainnya, salah satu temanku berkata padaku bahwa salah seorang volunteer laki-laki berkata seakan-akan menyindirku atas segala sesuatu yang telah aku lakukan kepada mbak Bunga.

Gitu kok mau jadi relawan…”

Awalnya aku tak seberapa menanggapi hingga akhirnya temanku menunjukkan kronologi cerita mengapa sampai ada salah seorang volunteer laki-laki yang berkata tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mbak Bunga selaku volunteer senior, aku jadi berfikir negatif mengenai mbak Bunga. Entah apa yang sudah aku perbuat kepadanya, aku hanya merasa kurang jelas terhadap sebuah pembahasan, jikalau memang ada beberapa perkataanku yang menyinggung, aku minta maaf. Aku tak pernah bermaksud bahwa beberapa pertanyaanku akan membuat orang lain sakit hati.

Tapi, sedikit komentar untuk mbak Bunga, atau bahkan untuk semua orang yang rentan sekali tersinggung. Sebelum anda mulai marah karena perlakukan orang lain, mohon kiranya anda menengok sebentar ke diri anda sendiri, mohon kiranya anda juga menghargai perasaan orang lain dengan mendengarkan beberapa keluhan atau bahkan pertanyaan yang terlontar dari siapa saja yang ingin bertanya. Sebetulya, menghargai pendapat orang lain itu begitu penting, karena dengan menghargai anda tidak akan membuat orang lain kecewa yang ujung-ujungnya anda juga bisa kecewa oleh perbuatan orang lain. Aku bertanya karena aku menghargai posisi anda sebagai senior saya, tapi bukan berarti pertanyaan saya itu sifatnya meragukan kemampuan anda, bukan. Saya tak pernah bermaksud untu memperlakukan orang lain seperti itu, apalai dengan senior yang saya begitu hargai sejak petama kali diperkenalkan kepada saya. Sebagai junior, saya juga harus memposisikan diri saya sebagai junior, begitupun dengan kalian para senior. Saya tau pengalaman anda lebih banyak daripada saya, karena anda sudah lama hidup di dunia kesukarelawanan, tapi bukan berarti bahwa anda sebagai senior harus memandang rendah kami para junior, kan? Sebagai junior, sudah menjadi kewajiban kami untuk menghargai kalian sebagai senior kami, tapi kami juga perlu dihargai, bukan malah diremehkan atau bahkan dijatuhkan kedudukannya di mata senior volunteer lainnya. Saya cukup menghargai anda, mbak Bunga, saya hara panda bisa belajar tentang itu.

Rasanya menjadi bumerang yang mematikan ketika seorang senior dan junior tidak saling menghargai, atauh bahkan berselisih paham. Karena sebuah organisasi tak akan menjadi besar tanpa adanya kekompakan dari seluruh lapisan anggotanya, baik yang sudah mengabdikan lebih lama ataupun yang baru. Apalagi organisasi ini adalah organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, tentang menjadi sebuah relawan yang tulus mengabdikan dirinya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan bersama pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s