Keindahan Pasir Pantai Sendiki

Keramaian jalan raya tak menyulutkan semangat dua gadis untuk terus melanjutkan perjalanan untuk menapaki jejak keindahan alam bumi pertiwi. Pagi ini, aku dan satu sahabatku berencana untuk pergi menelusuri salah satu pantai di wilayah kabupaten Malang. konon cerita, pantai ini masih terbilang baru, sekitar belum genap satu tahun sepertinya. Pantai Sendiki merupakan pantai pertama yang akan kami kunjungi pagi ini.

Hmmm, jadi gak sabar pengen segera sampai”.

Setelah sekitar setengah jam bersiap-siap dan berpamitan, motor ‘Kirana’ lawas ini pun siap menemani kami berkeliling. Berbekal telepon genggam seadanya dan beberapa keperluan dalam ransel kecilku akhirnya kami berangkat. Di sepanjang perjalanan menuju pantai Sendiki, aku yang dibonceng oleh temanku menghabiskan waktu untuk mencari informasi tentang pantai Sendiki, karena tak satupun dari kami mengetahui jalan menuju lokasi. Bismillah…

Sekitar dua jam perjalanan dari Kota Malang, akhirnya kami menemukan petunjuk jalan yang mengarah ke pantai Sendiki. Menurut salah satu blog di internet, kami nanti akan melewati sawah sebelum sampai ke tempat tujuan, dan ternyata benar. Kami melewati hamparan sawah nan hijau, tak kuliah tanda-tanda pantai di depan, sepanjang perjalanan adalah sawah. Jalanan pun menjadi kurang bersahabat, ya meskipun jalanannya sudah bisa dibilang bagus untuk pantai yang baru. Tapi, karena hujan mengguyur kota mlang tadi malam, akhirnya jalanan pun menjadi sedikit berlumpur dan banyak genangan air dalam beberapa bagian tanah yang berlubang. Karena takut jatuh, temanku memutuskan untuk berjalan kaki karena tak mau tubuhnya menjadi kotor jika nantinya motor ini tak bisa menahan beban dua gadis berisi ini. Hehe…

Ini merupakan pengalaman pertama dalam hidupku, melewati sawah dan beberapa rumah penduduk sebelum menuju wisata pantai selatan. Biasanya, kami harus melewati padang panas dan jalanan yang panjang, seperti jika ingin ke pantai Bajul Mati, pantai Sendang Biru, pantai Goa Cina dan beberapa pantai yang berada dalam gugusan di sebelah sana. Begitupun jika mau ke pantai yang ada di daerah Pacitan, harus melalui beberapa jalanan menanjak, atau bahkan menurun. Keindahan pantai Sendiki sudah di mulai sejak pertama kali menemukan petunjuk arah di daerah Sumber Manjing kabupaten Malang. Sungguh hamparan sawah yang hijau nan indah.

Setelah melewati padang sawah, akhirnya kami tiba di tempat parkir sepeda motor. Dari tempat parkir, kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter kata bapak yang bertugas sebagai penjaga portal dan tiket masuk. Butuh banyak tenaga untu bisa sampai di bibir pantai, karena ternyata kali ini kami menemui jalanan menanjak. Ya, meskipun sudah ada beberapa area yang memiliki tangga buatan dan jalan yang sudah disemen, tetap saja berjalan menanjak itu melelahkan. Kami pun berhenti di salah satu gubuk kecil di sepanjang jalan orang berjualan, berhenti untuk sesekali minum atau menyepa keringat kami. Ternyata, deburan ombak sudah mulai terdengar dari kejauhan, serentak kami langsung bagun dengan semangat pasca mendengar deburan ombak yang begitu keras. Kami pun berlari menuruni jalanan yang sedikit berlumpur karena hujan.

“Welcome, Sendiki…”

Ternyata keindahan pantai Sendiki tak seperti yang ada di internet, beberapa orang berkata bahwa pantai Sendiki merupakan pantai yang cantic, indah. Bagiku, pantai Sendiki bukan hanya cantik, tapi surga dunia. Keindahan pasir putih dan deburan ombak menari-nari di bibir pantai. Tak berhenti diri ini memuji keagungan ciptaan sang maha kuasa, sungguh pantai ini seperti surga yang begitu cantic tak bisa ditandingi. Keindahan yang ditawarkan bukan hanya pasir putihnya saja, tapi air laut yang begitu hijau serasa mengajak setiap orang yang datang untu mandi atau sekedar berbasah-basahan saja. Sayangnya aku tak membawa ganti baju, akhirnya aku menjaga diriku agar tidak terkena air pantai nan hijau dan jernih tersebut. Di bibir pantai terdapat beberapa ayunan untuk para pengunjung yang mau duduk santai menikmati lukisan sang pencipta.

“Oh Tuhan, sumpah ini keren bangett, sumpah cantic ba

nget, Lel!!!” aku pun hanya bisa loncat loncat bahagia melihat keindahan pantai.

Tak lengkap rasanya jika mengunjungi surge tanpa mengabadikan momen indah tersebut, dikeluarkanlah sebuah telepon genggam dengan kualitas kamera yang lumayan dan ‘tongsis’ tongkat narsis milik Layli. Satu jepretan kurang, dua, tiga, ahh rasanya aku tak mau meninggalkan surga tersembunyi ini. Sebelum pulang, aku menyempatkan untuk berfoto dengan sehelai kain kebangsaan. Iya, bendera sang saka merah putih. Memanjat salah satu batang pohon yang mengarah ke lautan, awalnya aku takut, tapi karena keinginan untuk foto dengan bendera bangsa akhirnya aku memberanikan diriku untuk memanjat dan berjalan meraih sang bendera. Dengan segala hormat kepada sang saka, kepada Indonesia yang telah menyuguhkan keindahan alamnya, kepada sanga Khaliq atas segala nikmatnya sehingga masih bisa merasakan keindahan alam tercinta.

Waktu pun tak mengijinkan kita untuk berlama-lama, akhirnya kami membersihkan diri dari pasir-pasir yang menempel di celana, kaki, dan juga tangan. Sebelum pulang, kusempatkan untuk bertanya kepada seorang lelaki mengenai sejarah pantai Sendiki ini. Awalnya aku penasaran mengapa namanya pantai Sendiki, ternyata nama Sendiki diambil dari Bahasa Jawa “seng endi iki”. Konon ceritanya ketika di jaman nenek moyang ternyata daerah ini sudah dinamakan Sendiki, itu bermula ketika dipasangnya patokan untuk perbatasan antar dua desa, hingga suatu saat patokannya hilang. Seseorang sontak bertanya dalam Bahasa Jawa “seng endi iki? Endi iki patokane? Kok pindah-pindah?” yang hingga saat ini dinamakan Sendiki berasal dari obrolan masa lalu “Sengdiki”. Akhirnya kebingungan kami terjawab sudah dengan penjelasan dari bapak tersebut. Sang bapak juga bercerita bahwa peresmian pantai ini juga baru dilaksanakan sekitar tahun lamanya, kira-kira telah hari raya Idul Fitri 2014.

“Pantai Sendiki ini masih bisa dibilang perawan mbak, lah wong baru diresmikan, lek pantai e yawes sejak dulu ada mbak, haha”.ujar sang bapak kepada kami.

Kamipun pulang dengan perasaan senang, di satu sisi kami lega ternyata kami sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan kami ketika berangkat, kedua, senang karena telah disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa mengagumkan. Ah senangnya perjalanan hari ini, menyusuri pantai cantic di pelosok negeri kabupaen Malang. memang kabupaten Malang merupakan negeri pelosok dengan seribu pantai indah mengelilinginya. Semoga masih diijinkan oleh sang kuasa untuk menjajakkan kaki di setiap pasir cantik bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s