Komunitas Topeng Malangan Panji Asmoro Bangun

DSC_0014

 

Komunitas Topeng Panji Asmoro Bangun

Dusun Kedung Monggo – Desa Karang Pandan – Kec. Pakisaji – Kab. Malang

Sabtu, 12 Desember 2015

Narasumber: Bapak Handoyo

Perkumpulan wayang topeng ini ada sejak tahun 1900 oleh mbah Serun. Wayang topeng ini merupakan warisan turun temurun dari keluarga yang dulunya merupakan kesenian yang sering diperrtunjukkan kepada para bangsawan-bangsawan di masa kerajaan Majapahit pada masa kejayaan Hayam wuruk. Topeng malangan bermula ketika bupati Malang pada saat itu, Raden Suryoduningrat mulai membentuk kelompok wayang di pendopo kadipaten. Tpeng malangan ini dibawa oleh Gurawan, seorang pengantar surat dari Belanda dan Adipati, di Kali Surah Lawang. Ketika Nyonya Yolis, salah satu bangsawan Belanda memunyai anak bernama Vanderfol yang tinggal di daerah Kromengan. Hingga akirnya Vanderfol memiliki murid bernama Mbah Serun sebagai generasi pertama yang melestarikan wayang topeng.

Menurut silsilah keluarga wayang topeng, tradisi wayang ini dimulai dari Mbah Kirun, generasi kedua adalah mbah Kiman, dilanjutkan oleh mbah Karimun. Mbah Karimun pada tahun 2013 mendapatkan apresiasi gelar MAESTRO oleh Kementrian Kebudayaan. Selanjutnya dilanjutkan oleh mbak Taselan dan sekarang dipegang oleh bapak Handoyo. Saat ini, sudah ada sekitar 40 orang dewasa yang belajar di sanggar seni wayang topeng panji asmoro bangun sebagai penari dan pemain musik. Ada juga sekitar 40 anak-anak yang juga belajar seni wayang topeng.

Wayang topeng ini dulu digunakan sebagai acara bersih desa, ataupun acara adat lainnya di daerah setempat. Pelaksanaan wayang topeng dahulupun dilaksanakan seperti pertunjukan wayang kulit seperti biasanya. Namun, pertunjukan wayang topeng saat ini tidak seperti pertunjukan di masa lalu. Wayang topeng saat ini kurang diminati oleh pemuda-pemuda jaman sekarang, karena kebanyakan pemuda kurang tertarik terhadap kebudayaan wayang topeng. Apalagi, pertunjukkan wayang topeng saat ini dipertunjukkan selama 30 menit saja, dan itupun hanya sedikit yang menonton. Kurangnya minat dari pemuda sekarang mengakibatkan sedikit dan kurang berkembangnya wayang topeng di kalangan masyarakat, karena hanya beberapa orang saja yang melihat dan melestarikan. Apalagi, pengagum wayang kebanyakan datang dari masyarakat tua saja, yang kemungkinan besar tidak ada yang meneruskan tradisi dan kecintaannya terhadap budaya sekitar.

Cerita yang diangkat dalam pertunjukan wayang topeng dahulunya yaitu cerita tentang Ramayana, Mahabarata, dan lainnya. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, cerita yang dipentaskan dalam wayang topeng berkembang menjadi cerita tentang pangeran Panji dari kerajaan Kediri. Cerita tersebut diangkat dengan menjunjung tinggi nilai budaya yang berkembang di Tanah Jawa yang sempat membuat Jawa menjadi pusat peradaban di masa lalu. Saat ini, bapak Handoyo bercita-cita untuk mengembangkan cerita panji dari daerah Singosari sendiri.

“Saat ini dengan berusaha merancang cerita tentang Panji dari Singosari, mengangkat cerita Ken Arok dan Ken Dedes, cerita ini akan dikupas melalui naskah kuno yang ada di Singosari dan beberapa peneliti naskah, yaa semoga saja cepat terlaksana mbak” ujar pak Handoyo.

Terdapat 76 koleksi topeng yang ada di sanggar seni ini dengan karakter dan ciri khas masing masing. Untuk pemeran protagonist, pemeran baik, biasanya memiliki mata seperti mata manusia, tidak memiliki gigi taring, dan dihiasi ukiran-ukiran bunga bagi sebagian topeng, biasanya karakter wanita. Untuk karakter antagonis, pemeran jahat, biasanya memiliki mata bulat melotot, taring pada giginya, dan memiliki symbol binatang pada topengnya. Symbol binatang yang biasanya terdapat pada karakter jahat yaitu; Garuda sebagai panglima perajurit yangmelambangkan ketangkasan, Gajah sebagai prajurit yang melambangkan kekuatan, dan Naga sebagai pemimpin yang melambangkan kekuasaan. Selanjutnya, karakter lucu. Karakter ini memiliki ciri-ciri yang mudah diketahui dari awal, mereka memiliki wajah ceria tanpa adanya ornament di kepala mereka.

Pembuatan wayang topeng ini berkisar 3 hari sampai 3 minggu. Hal ini dipengaruhi oleh kesediaan bahan baku serta kerumitan topeng. Untuk bahan baku, mereka biasanya memilih pohon Sengon sebagai mayoritas bahan baku meskipun mereka terkadang menggunakan pohon kembang, pohon pule, pohon nangka, dan pohon mentaos. Karena keterbatasan dan pertumbuhannya yang lambat, mereka menngunakan batang pohon Sengon yang memang dibudayakan oleh masyarakat setempat. Untuk ukiran topeng sendiri, mereka sudah memiliki sekitar 76 karakter dengan ukiran dan warna masing-masing. Untuk warna-warna yang ada dalam karakter setiap topeng memiliki filosofi tertentu. Ada 5 warna yang menjadi warna dasar karakter topeng; merah melambangkan keberanian, putih yaitu suci setia, kuning bermakna ceria kesenangan, hijau berbarti kedamaian kesuburan, dan hitam adalah kebijaksanaan.

“Kita memiliki karakter baru dalam wayang topeng, yaitu karakter ayam jago” ujar pak Handoyo

Hal ini dilatar belakangi oleh pengalaman pak Handoyo dengan teman-teman sedang mementaskan cerita Panji Kediri yang bercerita bahwa mereka melaksanakan adu ketangkasan ayam. Pak Handoyo mengaku bahwa pementasan itu terjadi sekitar pukul 3 dini hari, dan harus membangunkan ayam jago untuk ditarungkan dengan ayam jago lawan. Sayangnya, ayam sang Panji Kediri yang seharusnya menang dalam cerita menjadi kalah karena posisi ayam yang tidak begitu bangun. Akhirnya alur cerita pun berubah karena kenyataannya ayam sang pangeran kalah. Karena dirasa begitu fatal untuk merubah jalur cerita, akhirnya beliau memutuskan untuk membuat karakter baru, yaitu ayam jago agar jalan cerita bisa seperti naskah yang sudah mereka persiapkan.

Saat ini, topeng-topeng ini sudah menjadi salah satu mata pencaharian untuk pak Handoyo dan beberapa warga sekitar. Ternyata, wayang topeng ini juga pernah dipentaskan di berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan pernah sekali dipentaskan di Thailand 2013 pada Festival Panji International. Wayang Topeng Malang juga mendapat banyak apresiasi atas kerja kerasnya melestarikan wayang topeng sebagai budaya lokal Malang. Toepneg-topeng ini juga sudah dikirim ke berbagai kota untuk dijadikan souvenir dan hiasan rumah, dan sebagainya.

Di sanggar seni ini, kita bisa menemukan berbagai kegiatan, terutama untuk mengembangkan kemampuan warga sekitar dalam membuat, dan menampilkan pertunjukan wayang topeng itu sendiri. Pada hari Minggu pagi selalu diadakan latihan tari rutinan untuk anak kecil hingga dewasa, kegiatan ini tidak dipunggut biaya karena memang murni ingin menyebarluaskan tari topeng itu sendiri. Kedua, karawitan pada hari Jumat dan Minggu, pelaksanaannya yaitu malam hari di pendopo wayang topeng itu sendiri. Selanjutnya adalah latihan membuat topeng yang dilaksanakan di sanggar seni ini sendiri. Peserta bisa datang dari berbagai usia. Pembelajaran membuat topeng ini bisa dilakukan setiap hari, karena sanggar seni ini memberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk siapapun yang mau belajar membuat topeng. Jika latihan tari, karawitan, dan pembuatan topeng merupakan latihan rutin mingguan, sanggar seni ini juga menyediakan pertunjukan di setiap beberapa bulan sekali kecuali bulan puasa dan menjelang hari kemerdekaan. Mereka biasanya mementaskan pertunjukkan menyesuaikan hari-hari penting di desa, seperti pesta panen raya, bersih desa, atau lainnya. Dalam waktu dekat ini, mereka juga akan menggelar pertunjukan akhir tahun pada tanggal 27 Desember 2015 pada pukul 19.00-20.00 WIB di pendopo sanggar seni asmorobangun.

Untuk publikasi, sanggar seni asmoro bangun ini memiliki blog yang dapat diakses di http://bangunasmoro.blogspot.com . Pak Handoyo juga mengaku bahwa wayang topeng malang ini juga berhasil dipublikasi melalui akun youtube oleh beberapa mahasiswa yang melakukan observasi dan dijadikan video untuk dipertontonkan secara luas. Hal ini juga membantu sanggar seni asmoro bangun untuk lebih menyebarluaskan sanggar dan galerinya itu sendiri.

Begitulah hasil observasi saya dengan pemilik sanggar seni, pak Handoyo pada hari Sabtu, 12 Desember 2015 pada sekitar pukul 09.00-10.30 WIB. Semoga informasi di atas bisa menambah pengetahuan kita bahwa terdapa sebuah warisan budaya yang seharusnya dilestarikan untuk generasi mendatang, dan menambah kecintaan kita terhadap Indonesia untuk lebih mencintai budaya lokal dan melestarikannya untuk kepentingan bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s