Negeri Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan jutaan pulau pulau kecil di dalamnya inilah yang membuat negara Indonesia terkenal dengan kekayaan bahari nya. Sebut saja Taman Nasional Bunaken yang terletak di Kepulauan Sulawesi, sungguh panorama yang tak akan pernah bisa digantikan oleh pemandangan lainnya di Indonesia. Sejak dulu memang Indonesia begitu terkenal di kancah dunia, entah dari sumber bahari, sumber pangan, atau bahkan beberapa berita kurang baik dari negeri tercinta ini.

Dikarenakan memiliki kepulauan terbesar di dunia, hampir 50% jenis ikan terdapat di Indonesia, dari ikan-ikan kecil di dasar laut hingga ikan-ikan cantik yang memenuhi kolam ataupun aquarium di setiap rumah penduduk. Tak hanya kecantikan ikannya saja, banyak nelayan juga menggantungkan kehidupannya dengan membudidayakan beberapa ikan pangan, atau menangkapnya langsung dari perairan. Tapi, apalah daya para nelayan-nelayan kecil kita, dengan bermodal kapal dan teknologi sederhana mereka bekerja. Tak sama dengan beberapa kaum kapitalis yang mengandalkan uang mereka untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya atas kekayaan Indonesia. Lalu, dimanakah keadilan negeri ini berada? Bagaikan membayar ikan di kolam sendiri, hal ini dikarenakan tak ada fasilitas dari pemerintah untuk berlayar. Ah Indonesiaku, kini lautmu pun bukan milik kami lagi.

Sempat terpikir mengenai julukan ‘Macan Asia’ yang pernah diberikan kepada negeri tercinta ini. Swasembada pangan melimpah, rakyat sejahtera, tak kekurangan pangan sedikitpun. Julukan yang diberikan oleh dunia terhadap Indonesia tak hanya sebagai julukan saja, tapi karena semangat juang sang petani untuk mengembangkan lahannya. Sekarang? boro-boro mengembangkan lahan, asal bisa bekerja saja para petani itu sudah senang, meskipun lahan tersebut bukan milik mereka. Lahan yang mereka miliki sudah dibeli oleh orang-orang berdasi di sebrang sana, yang entah akan dibangun industri atau sekedar perumahan elit di pinggiran kota. Alhasil, karena mereka hanya bisa bertani, mereka pun bekerja sama dengan petani lain agar tetap bisa berladang. Sungguh keadaan yang begitu mengenaskan mengingat negeri ini pernah berjaya di kawasan Asia dan sekitarnya. Bahkan, untuk kebutuhan pokok saja pemerintah masih berjuan keras untuk membeli produk luar negeri.

Teringat akan pidato mantan presiden Indonesia, B.J Habibie “Kalau anda mengimpor gelas (sambil mengangkat gelas), mengimpor meja (sambil menggebrak meja), dan mengimpor mic (sambil menunjuk microphone) maka anda membayar jam kerja orang sana. Bayarlah jam kerja rakyat agar mereka semua mandiri”.

Jika terus menerus mengimpor dari luar buat apa julukan negara agraris? buat apa tanah yang subur kalau pemerintah saja tak percaya akan kemampuan rakyatnya sendiri.

Berbagai kebijakan telah dibuat demi menegakkan keadilan di negeri kecil ini, mulai dari hukuman penjara untuk beberapa tahun atau bahkan membayar denda yang tak sedikit. Tapi, hukuman tersebut bagaikan angin berlalu, tak berarti apa-apa bagi penduduk Indonesia sendiri. Pepatah mengatakan “Hukum ada untuk dilanggar”. Dengan itulah cara pandang orang Indonesia meneruskan kebiasaan-kebiasaan kurang baiknya. Dengan kebijakan yang tak ditindaklanjuti inilah penduduk Indonesia tumbuh, tumbuh menjadi generasi tak aturan, generasi yang paling suka melanggar. Ah negeriku, mungkin nanti kau akan lupa hakikat negerimu.

Entahlah, mungkin negeriku sedang kekurangan generasi, para pemuda lebih suka menghabiskan waktunya untuk berinteraksi di dunia maya. Mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk nongkrong, bercanda, atau bahkan tidur bermalas-malasan di kamar. Mungkin mereka sudah lelah dengan sibuknya dunia pendidikan, mereka sudah bosan melihat jutaan ragam manusia di negeri ini dan memutuskan untuk berinteraksi di dunia yang tak jelas keberadaanya. Indonesia membutuhkan para pemuda yang tangguh, tangguh menghadapi segala macam permasalahan yang terjadi di negeri nan indah ini. Indonesia membutuhkan pemuda yang tanggap, yang tak hanya bermalas-malasan menggantungkan kemampuan orang tua dan teman. Entah sampai kapan Indonesia akan bangkit dari keterpurukannya, bangkit menjadi macan asia seperti dulu kala, bangkit bersama membangun negeri, sambil membusungkan badan dan berkata “Indonesia bisa, dan memang bisa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s