Nasib oh Nasib

Aku tinggal di sebuah desa kecil di perbatasan antara Sidoarjo dan Surabaya, tinggal disebuah desa kecil di sekitar Bandara Internasional Juanda. Tinggal di daerah yang belum terlalu ramai oleh tekhnologi, yang sekedar untuk mencari warung internet (warnet) saja harus mengendarai sepeda motor sekitar 15 menit. Tinggal ditempat seperti ini membuatku lebih tenang ketimbang tinggal di kawasan perkotaan yang notabene tak mengenal satu sama lain. Disini aku mengenal beberapa macam orang di sekitar rumahku, aku mengenal baik  mereka, kesehariannya, tingkah lakunya, hingga pola piker mereka. Semuanya nampak alami tanpa adanya penghalang diantara kita semua, semua hidup damai berdampingan. Ah memang, hidup di perdesaan sedikit memberi kesan berbeda terhadapku.

Sudah sekitar 2 bulan aku tak mengunjungi rumah nun indah ini, tempat dimana aku melukiskan sejuta kisah. Hingga akhirnya aku kembali ke rumah sederhana ini untuk satu bulan kedepan, dikarenakan akhir bulan depan ini aku harus menjalankan amanat dari universitas untuk mengabdikan diri kami ke masjid-masjid yang ada di pelosok Kabupaten Malang. Oleh karena itu, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan kecil ini untuk berada di surge kecil di pinggiran kota ini.

Ketika aku sedang duduk di teras rumah, ibu mengakatan padaku bahwa sebentar lagi aka nada perubahan dalam lingkungan sekitar. Beliau mengatakan bahwa desa kami akan dimasuki PDAM dalam waktu dekat, karena pendataan pun sudah dilaksanakan beberapa minggu sebelum kepulaganku, beliau juga mengatakan bahwa rumah kami merupakan salah satu konsumen perusahaan air tersebut. Seketika aku kaget, “sejak kapan desa ini dimasuki seperti itu? Kurang kah sawah depan rumah yang sudah dibeli orang-orang berdasi untuk dijadikan perumahan? Oh my God, please!!!”

Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana desaku nantinya, sebuah perusahaan air mineral sudah mulai masuk di desa kecil ini. Aku mengerti bahwa air merupakan sumber utama bagi kelangsungan hidup nantinya. Bukan masalah perusahaan besar yang akan masuk ke desa kami, hanya saja terbesit pikiran mengenai orang-orang yang setiap harinya menjual air keliling desa demi memenuhi nafkah keluarganya. Tak terbayang bagaimana nasib mereka nantinya jika perusahaan besar itu mondar mandir di desaku. Yang biasanya orang desa membeli beberapa timba air untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak air, memasak nasi nantinya tak akan lagi membeli air gerobak yang biasanya keliling desa karena sudah ada perusahaan air yang akan mengalirkan air serupa ke rumah-rumah penduduk. Sudah pasti tak aka nada lagi warga desa yang akan membeli air yang didorong keliling desa. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka yang setiap harinya menggantungkan kehidupannya dengan air yang dijual keliling desa jika orang desa sudah memiliki air dengan kualitas yang tak kalah, atau bahkan lebih bagus?

Sungguh menyedihkan mendengar ini akan terjadi pada desaku, sebuah perubahan kecil yang akan membawa dampak yang besar bagi orang lain. Mungkin kami para penduduk hanya merasakan keuntungan adanya perusahaan air ini di tempat kami, dikarenakan kebutuhan air akan berbeda dari biasanya. Kami tak perlu lagi membeli air keliling untuk memasak karena kami sudah punya sendiri airnya, tak perlu lagi membuka sumur karena air akan terus mengalir dari kran kami setiap paginya. Ah hidup yang indah. Tapi, dilain sisi akan ada banya orang yang menangis karena merasa pekerjaannya sudah hilang digantikan tangka-tangki besar di setiap rumahnya. Tak aka nada lagi penghasilan lebih ketika mendorong gerobak penuh air tersebut, karena akan berkurang banyak konsumennya. Ahhh, nasibnmu kurang beruntung pak penjual air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s