Berwisata Sejarah di Kota Bersejarah

Hari Minggu (14/02/’15) aku beserta beberapa kawanku dari Kampoeng Sinaoe Buduran, Sidoarjo berkunjung ke suatu daerah dimana dulunya tempat tersebut merupakan pusat kerajaan, pusat peradaban. Iya Trowulan, sebuah kawasan kecil di Mojokerto, telah menjadi sumber harta kepurbakalaan yang merupakan bukti bahwa daerah tersebut merupakan kawasan maju dengan pusat kemegahan kerajaan terbesar di Asia Tenggara.

Kerajaan Majapahit, konon kerajaan ini merupakan kerajaan dengan perluasan wilayah hingga ke negara tetangga. Tak heran kalau beberapa budayawan dari seluruh negeri mengakui kejayaan dimasa lalu, dengan bukti reruntuhan yang hampir tersebar di kawasan Jawa Timur seperti Trowulan sebagai pusat kota, Sidoarjo, Blitar, dan sebagainya. Reruntuhan sebagai saksi bisu betapa agungnya kerajaan ini.

Sekitar pukul 09.00 pagi kami sudah sampai di tujuan pertama, Makam Troloyo. Sebuah komplek makam para leluhur Islam yang dulunya bermukim dan berdakwah di daerah mayoritas Hindu. Tujuan pertama ini kami berdoa bersama disamping sebuah makam kuno, kakek dari seorang Walisongo yang juga mashur dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Beranjaklah kami menuju makam selanjutnya, makam Kencana Ungu. Diperjalanan, terbesit bayangan bahwa tokoh ini sering mengenakan busana ungu seperti namanya. Ternyata, setelah sampai pada area pemakaman, makam terletak di dalam sebuah rumah kecil dengan tembok bercat ungu dihiasi pintu kayu dengan ukiran khas. Ketika memasuki rumah kecil tersebut, kami hanya diam kebingungan, memikirkan apakah sang jenazah ini muslim atau tidak. Ditakutkan jika non-muslim dan kita berdoa disebelahnya. Akhirnya, kami pun segera beranjak keluar bangunan dan menanyakan siapa Kencana Ungu kepada seseorang yang bekerja sebagai tukang cat. Setelah mendengarkan cerita dari bapak tersebut ternyata Kencana Ungu merupakan nama lain dari Tribuwana Tunggal Dewi, seorang ratu dari kerajaan Majapahit, yang ternyata sudah memeluk Islam sebelum menghembuskan nafas terakhir. Subhanallah 
Untuk mempersingkat waktu, akhirnya kami bergegas menuju destinasi selanjutnya, Candi Kedaton. Di perjalanan menuju Candi Kedaton kami melihat beberapa model rumah unik, bak rumah zaman dahulu kala. Ternyata, pemerintah daerah Mojokerto memberikan fasilitas pembangunan rumah tradisional untuk warga setempat, hal ini bertujuan untuk menghidupkan kembali suasana Trowulan seperti dulu kala. Dari kejauhan memang tak nampak seperti candi, hanya terlihat bangunan besar beratap, bagai lapangan olahraga ketika aku masih duduk di bangku SMA. Memasuki pintu masuk, kami sudah disuguhkan pemandangan tentang reruntuhan candi yang belum rampung penggaliannya. Setelah puas mengelilingi area Candi Kedaton, kami pun diceritakan oleh salah satu penjaga candi ini. Beliau bercerita bahwa disebelah candi terdapat sebuah sumur mata air yang dipercaya bisa mengobati penyakit, bisa diminum atau bahkan dibuat mandi. Di tengah komplek reruntuhan bisa ditemukan semuah lubang besar bertutupkan hambal merah dengan beberapa bunga dan dupa diatasnya. Dipercaya merupakan sumur buangan bagi para prajurit ataupun tokoh kerajaan untuk melarikan diri. Tak hanya itu saja, banyak orang yang juga melakukan pertapaan disebelah sumur tersebut untuk mendapatkan beberapa benda pusaka kerajaan.
Sedikit berjalan ke belakang Candi Kedaton kita menjumpai Situs Lantai Segi Enam. Memang sudah tak asing bagi kita melihat bentuk lantai yang seperti itu, dan ternyata model batako seperti itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Luar biasa!!
Beranjak menuju lokasi selanjutnya, Pendopo Agung. Biasanya, Pendopo Agung ini digunakan untuk acara kerajaan seperti rapat, pelantikan, atau bahkan acara pernikahan kerajaan. Hingga saat ini bangunan bersejarah ini masih digunakan oleh pemerintah daerah sebagai acara resmi mereka. Di Pendopo Agung ini terdapat relief pada dinding pembatas antara pendopo dan petilasan Raden Wijaya. Sebelum memasuki petilasan Raden Wijaya, kami melewati sebuah gapura yang dipercaya merupakan tempat dimana seorang Patih Gajah Mada bersumpah.
Sira Gajah Mada patih Amangkubumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Ahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Beliau Gajah Mada patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa(nya). Beliau Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru) melepaskan puasa, jika (berhasil) mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru) melepaskan puasa (saya).
Sedikit memasuki kedalam, kami diberi penjelasan bahwa petilasan panggung ini merupakan tonggak sejarah dimana Raden Wijaya melakukan pertapaan dan mendapatkan wangsit untuk mendirikan sebuah kerajaan, yang hingga saat ini dikenal sebagai Kerajaan Majapahit.
Setelah istirahat dan menikmati bekal makan siang, meluncurlah kami menuju destinasi berikutnya yaitu Candi Bajang Ratu. Sebuah candi dengan struktur bangunan yang ramping nan menawan ini telah membuat pengunjung terpana di setiap sisi bangunannya. Terdapat sebuah mitos dari candi nan elok ini, bahwa barang siapa yang berjalan menaiki candi dan melewatinya, hendaklah terus berjalan, tak boleh berbalik arah. Karena dipercaya apabila kita berjalan kembali, mimpi dan harapan kita tak akan terkabul. Entah bagaimana cara kerja mitos tersebut, yang pasti kami tak bisa menyebrangi candi seperti yang diceritakan, karena di depan candi sudah tertera larangan untuk menaikinya.
Lanjut ke tempat berikutnya, Candi Tikus. Rasanya sedikit geli ketika mendengar nama candi tikus ini. Konon, ketika penggalian situs bersejarah ini, ditemukan banyak sekali tikus oleh para arkeolog, oleh karena itu candi ini dinamai Candi Tikus. Sempat mendengar kabar juga mengapa candi ini dinamai candi tikus karena pintu pintunya yang sangat kecil seperti lubang tikus. Dipercaya juga bahwa arsitektur atap candi ini menyerupai Gunung Mahameru yang berada di India.
Beranjak dari Candi Tikus dan menuju Musium Majapahit yang berada tak jauh dari lokasi Candi Tikus. Di musium ini kita bisa menemukan beberapa miniatur celengan (tempat menabung tradisional) berbentuk babi, ayam, dan hewan lainnya. Beberapa patung dewa dan dewi Hindu dan Buda pun turut memenuhi ruangan ini. Tak hanya itu saja, terdapat beberapa koleksi lampu antik, mini terakota, tembikar, teko, gelas, piring dan beberapa perabotan rumah tangga lainnya. Menuju ke ruangan lainnya, kami menjumpai beragam koleksi logam, prasasti, tombak, hingga terdapat sebuah sumur keramat di ruangan tersebut. Berjalan menuju belakang musium kita bisa menemukan beberapa miniatur candi-candi peninggalan Majapahit, beberapa bebatuan besar dengan ukiran beragam, hingga peta Trowulan sebagai pusat situs kepurbakalaan.
Diperjalan keluar dari Musium Majapahit kita bisa menemukan banyak pohon Mojo. Usut punya usut dahulu kala tempat ini banyak sekali ditumbuhi buah ini, dan karena rasanya yang pahit, maka jadilan nama Majapahit, buah mojo yang pahit.
Di dekat musium majapahit terdapat sebuah tempat wisata, yaitu Segaran. Dalam Bahasa Indonesia, segaran merupakan laut. Dahulu, tempat ini dipercaya sebagai tempat penyimpanan sumber air bersih dikala musim kemarau, dikatakan juga bahwa tempat ini merupakan tempat mandinya para puteri raja. Dan, disebelah kolam ini terdapat taman yang luas yang dulunya digunakan sebagai tempat jamuan para tamu kerajaan. Hingga saat ini, Segaran dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk memancing.
Rasanya tak lengkap jika berkunjung ke Mojokerto tanpa ke Vihara Budha, tempat dimana terdapat sebuah patung budha tidur. Sebuah patung raksasa itu berdiri di atas sebuah kolam yang lumayan panjang dengan beberapa ikan kecil di dalamnya. Di depan terdapat beberapa patung budha dengan berbagai pose sesuai kepribadian, karena setiap perbuatan budha, baik itu cara berdiri, ataupun duduk selalu memiliki makna tersendiri.
Selanjutnya, kami pergi ke petilasan Raden Brawijaya. Seperti yang sebelumnya, kami hanya menemukan petilasannya saja, tempat bertapa dan meditasinya saja, karena zaman dahulu mayat dibakar, atau bahkan tak ditemukan jasadnya. Yang membuat menarik dari kisah Raden Brawijaya ini adalah kedua pengawalnya, Sapu Jagad dan Sapu angin. Seorang juru kunci menceritakan bahwa abdi ini merupakan manusia biasa, hanya berbeda pada ilmunya saja. Dijuluki sebagai Sapu Angin karena abdi ini menggunakan angin untuk melawan para musuh, sedangkan Sapu Jagad menggunakan kekuatan alam semesta (jagad) untuk membantunya melawan musuh raja. Diceritakan bahwa abdi setia ini selalu mengawal raja, selalu berada di dekat raja hingga akhir hayatnya, mereka tak mau beranjak tanpa perintah sang raja. Hingga akhirnya mereka meninggal dan dimakamkan di dekat petilasan Raden Brawijaya.
Karena waktu sudah sangat sore dan matahari pun serasa mau redup, akhirnya kami memutuskan untuk segera bergegas ke Candi Brahu. Tak seperti di Candi sebelumnya, di sekitar Candi Brahu terdapat beberapa bentuk rerumputan bak stupa, mengingat tak adanya ukiran atau bentuk candi yang berbentuk stupa. Tak hanya itu saja, juga terdapat sebuah rerumputan berbentuk ayam jago di sebelah barat candi. Sinar sunset turut mempercantik candi tersebut. Sayangnya kami hanya memiliki waktu terbatas karena hari pun nampak semakin gelap.
Tak berhenti di situ saja, kami masih meneruskan perjalanan menuju makam Mbah Sulaiman. Beliau merupakan salah satu kyai yang dahulunya akan dinikahkan oleh salah satu puteri dari raja Brawijaya. Karena Syekh Sulaiman tak mau, akhirnya ia melarikan diri dan beberapa prajuritnya pun turut mengejarnya. Hingga akhirnya ia bersembunyi di Mojosari dan mengabdikan dirinya di daerah setempat. Dan suatu saat, syekh Sulaiman pun jatuh sakit dan meninggal, jenazahnya pun dimakamkan di Mojosari.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk berziarah ke Pondok Pesantren Tebuireng, pondok pesantren milik KH Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kami berziarah ke makam tokoh nasional, KH Hasyim Ashari, Wahid Hasyim dan Presiden Indonesia ke -4 KH Abdulrahman Wahid. Pesantren ini tak pernah sepi oleh para peziarah, hampir setiap hari selalu saja banyak pengunjung, meskipun tak seramai ketika hari besar islam, ataupun malam jum’at, malam ini pun nampak beberapa peziarah berdoa di depan pelataran makam. Lantunan tahlil dan sholawat pun bergema dari setiap sudut makam, karena biasanya para peziarah duduk mengitari makam.
Hari pun semakin larut, akhirnya kami memutuskan untuk bergegas pulang mengingat besok kami harus kembali ke kegiatan sehari hari, aku dan beberapa temanku yang kuliah, ada yang harus berangkat pagi pagi sekali untuk bimbel sebelum Ujian Nasional, ada yang besok harus mulai mengajar. Meskipun seharian ini kami berkeliling menjelajahi kota bersejarah, meski harus berlelah-lelah naik turun dari mobil, rasanya kami masih belum puas menggali ilmu di kota bersejarah ini. Bahkan, kami rasa sehari ini terlalu cepat dengan beberapa destinasi yang harus dipelari. Mungkin suatu saat kami bisa memulai kegiatan belajar ini dengan durasi yang lebih lama. Karena bagaimanapun, sebagai generasi penerus bangsa harus mengetahui bagaimana negaranya dulu, karena dengan mengetahui sejarah kita bisa membangun negeri ini lebih baik. Karena dengan mengetahui sejarah, kita turut mengenang jasa para pendahulu dan turut melestarikan situs dan warisan bangsa. Syukur-syukur kalau kita juga bisa mengembangkan keilmuan dari kejayaan seperti di masa lalu.

Seperti pesan pak Soekarno “JAS MERAH, Jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Malang, 16 Februari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s