Hidup Bak Penjual Nasi Goreng

Hidup itu seperti penjual nasi goreng, butuh banyak pengorbanan untuk mendapatkan lembaran-lembarang uang. Begitupun dengan hidup, selalu banyak ujian dan pengorbanan untuk bisa meneruskan hidup.

Layaknya si penjual nasi goreng, banyak sekali ujian yang harus dihadapinya. Mereka harus bisa memperhitungkan berapa banyak bahan yang pas untuk dijual nantinya, karena mereka percaya bahwa bahan-bahan yang digunakan sebagai sayur, nasi maupun bumbunya lebih enak yang baru. Alhasil mereka harus memperkirakan berapa kilogram beras yang harus dimasak, mengukur berapa gagang sayur yang nantinya akan ditambahkan, telur yang juga harus dipersiapkan. Semuanya diperhitungkan, meskipun sepele, mereka sangat sensitif pada perlengkapan yang akan mereka persiapkan sebelum berangkat mengais rejeki.

Tak hanya mempertimbangkan seberapa banyak barang yang dibutuhkan, peralatan memasakpun juga dipertimbangkan. Dikhawatirkan wajan penggorengan yang sudah tak layak pakai, atau banyak noda yang masih menempel, atau spatula yang kotor pun mereka pikirkan, demi menjaga kebersihan alat-alatnya nanti, supaya pelanggan tak mengeluh atas pekerjaannya. Meskipun mereka hanya penjual nasi goreng keliling, mereka tetap menjaga kebersihan dagangannya, berusaha sebisa mungkin menjaganya dari kotor.

Manusia hidup pun juga seperti pedagang nasi goreng. Hampir setiap pagi kita selalu mempertimbangkan apa yang akan dilakukan seharian ini, memikirkan berapa banyak uang yang akan kita habiskan, berapa banyak tenaga yang akan kita habiskan. Karena tak semuanya berjalan dengan lancar, yang kita perkirakan pun masih bisa meleset, sama dengan pedagang yang takut dagangannya tak laku. Sama. Setiap pagi kita selalu memikirkan agar kita bisa tampil percaya diri dihadapan orang lain, tampil sesempurna mungkin untuk menarik perhatian kawan lainnya, yahh itung-itung untuk menambah jumlah teman.

“Kenapa jualan nasi goreng pak?”

“Mau kerja apalagi nak? Cari pekerjaan ya susah, saya bisanya ya cuman ini, mau gimana lagi, yang penting saya sekeluarga bisa makan ya Alhamdulillah”

Aku hanya bisa terdiam mendengarkan perkataaan si bapak, sedikit merenungkan betapa beruntungnya hidupku dengan segala kelebihan yang aku miliki. Aku hanya berfikir kalau seumpama orang tuaku yang berada di sisi bapak ini, pasti sangat sedih rasanya jadi anak yang selalu menyusahkan, selalu merengek mengemis uang, yang aku sendiri tak tau bagaimana susahnya mereka mencari uang.

Ah, lagi-lagi penjual nasi goreng ini mengingatkannku kepada orang tua disana, mengingatkan bagaimana tiap harinya mereka berfikir untuk bisa membagi uangnya untuk makan, biaya kuliahku, biaya sekolah adikku, atau biaya rumah tangga lainnya. Di sana, orang tua begitu berhati-hati menganggarkan biaya sehari kedepan. Bak penjual nasi goreng yang juga mempertimbangkan itu semua.

Hidup ini tak ada yang tau, kapan kita beruntung, kapan kita sial. Sama seperti penjual nasi goreng, ada hari dimana dagangan mereka habis, ada juga ketika dagangannya tak habis. Manusia hanya bisa menerka-nerka untuk mengantisipasi itu semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s