Dilema Masa Bermain

Silaturahmi ke rumah salah satu dosen kemarin memberiku makna penting dalam kehidupan ini. Sebuah diskusi menarik atas beberapa kejadian di lingkungan sekitar beliau pun turut aku rasakan secara tidak langsung. Diskusi dan juga terselip nasehat ini masih terngiang-ngiang di telinga hingga aku sampai di tempat baruku, tempat yang menjadi aku singgah dalam jangka panjang ini. Kurebahkan badan ini sambil merenungkan apa yang sudah dibicarakan banyak tadi.

Baru-baru ini kita dihebohkan mengenai kurikulum baru pendidikan kita. Kurikulum 2013. Sebuah kurikulum yang sengaja didesain baru demi memajukan pendidikan di negeri tercinta ini. Pendidikan diharapkan akan menjadi lebih baik dengan penerapan kurikulum baru ini. Pada kurikulum ini, sekolah diharapkan dapat memperpanjang masa belajar, karena mereka berfikir bahwa semakin lama belajar, maka bisa menyerap banyak ilmu. Dalam satu minggu, yang awalnya kegiatan belajar mengajar pada Hari Senin hingga Jumat, sekarang diperpanjang hingga Hari Sabtu, dengan alasan yang sama pula mereka memberlakukan sistem ini.

Entah apa yang sudah dipikirkan oleh pakar pendidikan yang katanya mereka itu ahli, iya ahli, ahli untuk membuat siswa malah menjadi enggan untuk belajar, atau bahkan melakukan hal positif lainnya. Dengan anggapan mereka mengenai durasi belajar yang lama, mereka salah besar. Secara kuantitas memang benar bahwa belajar yang lama akan menghasilkan anak yang pintar, tapi apakah anak seperti itu akan menghasilkan kualitas yang baik? Tidak!

Dulu, sepulang sekolah banyak anak yang berhamburan menuju tanah lapang untuk bermain sepak bola bersama atau bermain di pinggiran sungai meski hanya sekedar jalan-jalan. Sungguh masa yang seharusnya memang harus dirasakan oleh anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar maupun tinggkat selanjutnya. Tapi apa? Lihat potret anak sekarang, sepulang sekolah mereka harus disibukkan dengan tugas dan latihan soal setiap harinya, apalagi mengingat jam pulang sekolah yang sudah sore. Tak ada waktu anak untuk bermain ataupun beristirahat. Kapan mereka ada waktu untuk bermain? Untuk bercanda ria dengan kawan? Bahkan secara tak langsung kurikulum baru ini seakan membunuh kreativitas anak. Mereka bisa saja berain sepak bola, karena mereka memang suka. Tapi karena minimnya waktu untuk bermain, hobi mereka pun tak tersalurkan.

“Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat” sebuah pepatah yang dibenarkan hingga saat ini. Iya, belajar itu penting, sangat penting agar kita bisa melanjutkan hidup nantinya, sebagai bekal masa depan. Tapi, belajar juga ada batasnya! Bukan yang paling lama yang akan pintar, tapi belajar yang berkualiaslah yang akan menuntun mereka dalam menggapai apa yang mereka inginkan. Belajar yang diselingi berbagai kegiatan positif di luar sekolah juga merupakan penunjang dalam membentuk karakter si anak. Dengan belajar di alam, mereka juga secara tak langsung belajar tentang realita di masyarakat, belajar tentang bagaimana menghargai bumi ini. Secara tak langsung, mereka mempraktekkan teori yang mereka pelajari ketika hadir di kelas, dan alam yang mewujudkannya. Kegiatan itu harus seimbang, antara belajar dan bermain, karena tak selamanya yang banyak bermain itu bodoh, dan sebaliknya. Merekalah yang menentukan masa depan, orang tua hanya mengarahkan ke jalan yang benar, dan sekolah merupakan salah satu arena dimana mereka bisa menyalurkan minat dan bakat mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s