Hukum oh Hukum

Indonesia merupakan salah satu negara hukum di dunia. Meskipun kita tau telah terjadi banyak keganjalan yang terjadi pada sistem hukum di negeri ini. Memang hukum itu tak bisa ditebak, ada yang dibuat demi ketertiban bersama, ada juga yang tidak. Begipun hakim, sang raja dalam setiap persidangan. Tak sedikit hakim dinegeri ini yang bertindak sewajarnya.

Terjadi beberapa kasus di Indonesia dengan penanganan hukum yang amburadul. Penanganan hukum yang tak sesuai, atau bahkan hanya menguntungkan satu pihak saja. Masih ingatkah kasus Prita yang mengeluh karena mendapatkan pelayanan yang tak memuaskan harus merasakan betapa tak adilnya hukum di Indonesia. Seorang yang tak bersalah harus menanggung denda Rp. 312 juta atas pengadilan tingkat pertama di PN Tanggerang. Prita lalu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Banten.

Jutaan orang yang merasa benar membela Prita pun turut membantu menggalakkan koin untuk Prita. Kenapa koin? Karena makna koin yang begitu dalam, semua orang bisa menyumbang, meskipun hanya Rp. 100 perak saja, angka paling rendah di negeri ini. Tak hanya datang dari masyarakat, aktivis maupun mahasiswa pun juga turut turun ke lapangan untuk membantu mencari dana sumbangan. Puluhan artis Ibukota pun turut membantu dengan rela mengamen di pinggir jalan tanpa dibayar hanya untuk mengumpulkan kepingan koin untuk menolong seorang yang terkena diskriminasi keadilan.

Meskipun akhirnya Prita menang dan dibebaskan dari segala tuduhan, masih meninggalkan kekecewaan pada pengadilan yang tak begitu tegas dalam meniyapi suatu permasalah, kurang peka terhadap mana yang seharusnya perlu dibela. Hal ini sudah menjadi bukti betapa amburadulnya hukum di negeri ini. Tak hanya Prita, masih banyak kasus-kasus kecil yang lebih sepele tapi mereka malah harus menanggung beban yang berat. Sebut saja seorang nenek yang mencuri singkong di salahsatu sudut negeri ini. Alasan sang nenek mencuri bukan karena ingin mengambil sebanyak-banyaknya untuk kepentingannya sendiri, tapi karena hidupnya yang susah, anaknya sakit dan cucunya juga lapar. Tapi sang pemilik kebun tetap bersikukuh untuk tetap melaporkan sang nenek ke pengadilan. Alhasil tubuh yang sudah renta ini divonis denda Rp. 1 juta atau kalau sang nenek tak bisa membanyar harus tinggal di penjara selama 2,5 tahun.

Itu hanya potret sederhana betapa tak adilnya hukum di negeri ini, sedangkan kita tau bahwa puluhan koruptor sedang bersenang-senang di atas kursi kekuasaannya. Seorang yang jelas-jelas merugikan negara ini triliunan rupiah sekarang hanya duduk manis, kasus mereka dibelit-belit entah kemana, hingga tak ada yang tau sedang menjalani hukuman apa mereka, dan bahkan mereka hanya mendapatkan hukuman ringan atau bahkan lebih rendah dari hukuman orang kecil yang hanya mencuri tak lebih dari harga sebuah baju. Mereka harus mendapatkan hukuman yang begitu berat.

Ingatkah kalian mengenai kasus Gayus Tambunan? Seorang yang merugikan bangsa ini miliaran rupiah? Dimana dia sekarang? Apakah hukum sudah menetapkan hukuman yang sesuai bagi pencuri ini? Apakah hukum sudah adil dalam menindaklanjuti masalah serius ini? Atau bahkan hukum tak mau tau mengenai kasus ini? Sungguh miris.

Begitulah sistem hukum di negeri ini. Masih ada banyak ketidakadilan dalam menangani beberapa kasus yang beredar. Hukum harus ditegakkan, hukum harus tegas, tak hanya menindas yang lemah dan berpihak pada yang kuat, berpihak pada yang punya kekuasaan atau uang saja. Hukum tak bisa dibeli, ketidakadilan harus dijunjung tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s