Guru.

Banyak orang beranggapan kalau menjadi guru itu adalah sesuatu yang remeh, menjadi guru itu tak bisa kaya, menjadi guru itu Cuma begitu-begitu saja. Tapi apalah arti sebuah pekerjaan jika kita tak pernah ikhlas, tak pernah tulus dalam melakukan pekerjaan yang kita miliki. Meskipun guru dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, tapi sejatinya kita bukan apa-apa tanpa guru. Pantasnya, guru itu diberikan kedudukan tertinggi, karena jasanya, keikhlasannya mendidik para generasi bangsa.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” Sebuah pernyataan yang begitu sering kita dengar sejak zaman Taman Kanak-kanak hingga sekarang aku menempuh studi di Perguruan Tinggi, bahkan pepatah ini sudah ada sejak bangsa ini dijajah dulu, dan mungkin sampai kapanpun kalimat ini akan menjadi abadi. Sebuah gelar sampai mati ini diberikan kepada seluruh guru yang mendedikasikan hidupnya demi memajukan pendidikan d negeri ini. Seorang yang rela mengorbankan waktu, materi atau bahkan tenaganya demi tersampainya materi kepada sang murid. Guru itu tak hanya mengajar, tapi juga mendidik, guru itu tak memandang seberapa tebal amplop yang akan mereka terima, tak menimbang seberapa berat keringat yang telah mereka keluarkan.

Guru merupakan model, guru merupakan panutan bagi seluruh siswanya. Apapun yang dilakukannya akan juga memengaruhi perkembangan psikologis anak didiknya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu bersikap baik, berkepribadian yang baik pula. Seorang guru merupakan tuhan bagi muridnya, segala sesuatu yang diperintah guru dianggap sakral, dianggap baik. Oh guru . .  betapa besar peranmu dalam mendidik para putera bangsa ini, sungguh mulia jasamu ini. Jutaan bintang di langit seakan tak cukup untuk membalas jasa-jasamu.

Telah banyak kasus dimana guru telah sukses mendidik murid-muridnya dalam menggapai cita-cita. Dibalik kesuksesan murid, ada peran besar sang guru di belakangnya. Tak hanya itu, guru juga berturut aktif dalam perjuangannya, dengan berbeda-beda cara tentunya. Berjuang demi memperbaiki pendidikan di negeri tercinta ini. Bahkan, presiden pertama kita rela menyingkirkan sesuatu yang menggiurkan di luar negeri hanya untuk mengajarkan baca tulis kepada rakyat Indonesia yang buta huruf dulunya, sungguh perbuatan yang sangat mulia oleh sang guru bangsa. Dan sekarang yang sering kita sebut-sebut namanya, Anies Baswedan, seorang penggagas Indonesia Mengajar, seorang  guru bangsa yang mengirimkan para putera terbaik negeri ini untuk mengabdikan hidup mereka selama kurang lebih satu tahun di daerah pelosok yang tak tersentuh pendidikan. Ada pula komunitas yang juga menggalakkan pendidikan murah untuk anak-anak yang memang benar-benar membutuhkan, pendidikan murah yang berkualitas, bukan pendidikan murah yang murahan.

 Meskipun peran guru itu besar dimata seorang murid, tapi guru tetaplah manusia, dan manusia merupakan tempatnya salah dan dosa. Tak semua yang dilakukan guru itu benar. Masih ada saja guru yang bersikap baik di depannya, tapi ternyata di belakang beda. Hmmm . . .  ternyata. Pernah ada sebuah cerita dimana seorang murid yang diejek oleh salah satu gurunya, entah setan apa yang sedang merasuki pikiran beliau. Kata-kata kasar yang tak seharusnya keluar dari sosok malaikat bagi muridnya. Seorang murid polos yang tak mengerti apa-apa tersebut hanya bisa menitikkan air mata ketika ia dihina, diremehkan, dianggap bodoh. Hati siapa yang tak menangis mendengar itu semua. Mendengar sesuatu yang tak seharusnya tak ia dengarkan.

Tak sepantasnya seorang panutan berkelakuan demikian. Itu hanya satu dari jutaan guru di luar sana. Tak sedikit kok yang baik di sana, masih ada jutaan guru yang berjiwa besar di dunia ini. Meskipun kita telah tersakiti oleh guru, anggap saja bahwa mereka tak sengaja melakukannya, mereka memiliki cara tersendiri dalam mendidik muridnya. Kita jadikan saja hal ini sebagai motivasi, sebagai cambuk untuk membuktikan bahwa diri kita sebenarnya mampu. Bagaimanapun perbuatannya terhadap kita, beliau tetaplah guru kita, seorang yang telah memberikan ilmu baru untuk kita semua, seorang yang telah mengajarkan kita ilmu-ilmu yang tak semuanya kita dapatkan di bangku sekolah.

Menginjak ke Perhuruan Tinggi, kita tak lagi bertemu dengan guru, kita menyebutnya dosen. Sebenarnya tak ada bedanya antara guru dan dosen. Mereka sama-sama memberikan ilmu, mereka sama-sama mengajarkan pengalaman baru. Hanya berbeda level saja. Dalam hal ini dosen juga berperan penting dalam masa dimana para murid menginjak dewasa. Masa dimana kita akan menentukan jadi apa kita nantinya.

Banyak orang percaya bahwa guru itu lebih mulia dari dosen. Dosen hanya membimbing murid untuk meraih apa yang diinginkannya, tapi lain dengan guru yang tak hanya membimbing atau menemani saja. Guru juga mendidik karakter muridnya, membentuk sifat dan perilaku muridnya, tak jarang murid yang memiliki sikap yang hampir sama dengan gurunya. Seperti seorang filsuf terkenal Plato yang merupakan murid dari seorang Socrates. Murid ini juga memiliki pandangan yang luas seperti gurunya.  Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa guru juga berperan dalam pembentukan karakter muridnya. Tapi, meski Plato memiliki pemikiran yang berbeda dengan gurunya, dia tetap menghargai. Karena sejatinya, dia belajar, dia mengerti karena gurunya.

Meskipun guru dan dosen berbeda, tapi sejatinya mereka merupakan malaikat bagi para muridnya, mereka merupakan lentera. Tak ada satupun di dunia ini yang bisa tergantikan. Tak peduli itu dosen, tak peduli itu guru, tak peduli mereka sebentar atau lama dalam mendidik kita, mereka tetap seorang penyelamat bangsa ini. Seperti slogan yang dimiliki Sekolah Rakyat Merdeka “Semua orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah”. 

Mari kita turut membantu dalam mengembangkan pendidikan di negeri tercinta ini. Semangaaaaattttttt . . . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s