Sebuah arti

Dan siang ini, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan ketika sampai di Kabupaten Lawang, hampir mendekati perbatasan. Aku melihat jalanan begitu padat, bahkan untuk sepeda motor kecil ini pun hampir tak bisa bergerak. Macet. Aku jadi teringat tentang cerita kepulanganku dari kampus ketika akan mengajukan beasiswa dulu, kondisi jalanan yang sama parahnya di terik matahari di tengah-tengah. Di kedua sisi jalan macet tak seperti biasanya, panas ini tak seperti biasanya.

Hingga melewati sebuah toko besar yang menjual oleh-oleh khas malang “Bakpo Telo” jalanan menjadi sedikit renggang. Kulihat ke sebelah kiri telah terparkir sebuah mobil kijang hitam dengan kondisi kaca depan pecah. “Astaga kecelakaan . .” aku hanya bisa mengelus dada ketika melihat sebuah mobil mewah jadi seperti itu. Pandanganku pun terfokus pada sebuah truk besar di depan sana. Ketika melintasi truk itu, aku hanya bisa terdiam melihat sebuah sepeda motor terlindas truk besar itu. Astagfirullah . . . seketika itu, aku terbangun dalam kantukku, aku hanya tak mau kejadian itu terjadi padaku hanya karena keteledoranku dalam berkendara, hanya karena rasa kantuk ini. Aku melanjutkkan perjalanan, tak ingin membuat kemacetan.

Entah apa yang sedang terjadi pada diriku. Di kejauhan, telah tampak kerumunan orang di daerah pasuruan. Ternyata, sebuah kecelakaan kecil pun terjadi lagi. Antara mobil dan sebuah sepeda motor. “Ya Allah . . 2 kali lohh ini kecelakaan, astagaaa . .” aku hanyut dalam diriku sendiri. Sedikit tak tenang diriku berkendara.

Sesampainya di rumah, telah Nampak ibu yang sedang duduk-duduk di amben (kursi lebar sebutan orang jawa) di bawah pohon ceres yang sedang menunggu beberapa motor di bengkel. Sebungkus nasi jagungpun dibelikan untukku. Mungkin ibu tau kalau aku sedang lapar belum makan. Segera kulahap nasi jagung dengan lauk pepes tongkol dan sambel pencit (manga muda). Kedatangan bapak pun menghentikan makanku, beliau mengabarkan bahwa salah satu saudaraku masuk rumah sakit. Kritis. Seorang bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5 ini pun harus terbaring lemas di sebuah ruangan di desaku sana. Paru-parunya terinfeksi, dipastikan bahwa paru-parunya sobek. Sebuah berita yang tak mengenakkan selera makanku.

Kulanjutkan makanku sambil membayangkan kondisi rapuhnya di sana, aku tak menyangka bocah yang masih berumur sekitar 11 tahunan ini harus merasakan sakit yang begitu menyiksanya. Dikatakan oleh sebagian orang bahwa dia sudah tak kuat lagi. Ya Allah anak sekecil itu harus menanggung beban kesakitan yang tak semua orang merasakan sakit yang berkelanjutan seperti itu. Doaku bersamanya, aku bisa apa? Aku hanya mengirimkan doa dari kejauhan, semoga dia baik-baik saja.

Sebelum tidur, bapak mewanti-wantiku untuk tak pergi kemana-mana besok pagi, karena malam ini, adek sepupuku dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya untuk mendapatkan perawatan yang lebih intens setelah kurang lebih 14 hari berada di Rumah Sakit Daerah di Pamekasan.

Pagi hari, telah diputuskan bahwa yang berangkat menjenguk pagi ini adalah ibu dan bapak. Aku menyusul sore harinya. Sekali lagi aku hanya menitipkan salam dan doa untuk kelancaran semuanya, untuk kesembuhan adekku di sana. Karena tak memiliki aktifitas lagi, aku hanya menghabiskan waktuku untuk bermain laptop, sekedar melihat-lihat berita yang ada hari ini. Sekitar pukul 11 siang ini (15/05/2014) aku tertidur di musholla belakang, kudengar sebuah nyanyian bordering di salah satu hand-phone sebelahku. Nadapun berlalu. Hingga ketika aku merasa bising dengan suara HP tersebut, aku pun bangun. Ternyata, nada yang berdering berkali-kali di sebelahku adalah sebuah nada panggilan, dan aku tak menyadarinya. Kutengok ternyata pamanku, segera kulayangkan HP itu ke bapak yang sedang tidur-tiduran di kamar.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” ucap bapak dalam keheningan.

Kucoba menyakinkan diri dengan apa yang kudengar,” siapa yang meninggal? Astaga . .  apakah adek yang sedang di Rumah Sakit? “ aku terdiam di musholla belakang. Tak terasa air mataku mengalir, aku merasa kehilangan.

Seorang bocah meninggal di Hari Jum’at (16/05/2014) dengan penyakit komplikasi atas jantung dan paru-paru, penyakit yang menggerogoti satu persatu kehidupannya. Di kabarkan bahwa beberapa hari sebelum kematian, dia ingin sekali tidur di samping neneknya. Dan sekarang dia benar-benar pergi, meninggalkan puluhan keluarganya. Sebuah pernyataan yang sebenarnya merupakan sebuah pertanda, tapi tak ada yang mengerti, tak ada yang sadar. Sebuah permintaan yang sangat tak masuk akal, yang ternyata adalah sebuah pesan sebelum kepergiannya. Senyum indah tergambar dalam wajah bocah tak bernyawa ini. Jeritan tangis dari sanak saudara pun tak dapat dihentikan, tangisan sahabat yang selalu bersama, teman berbagi es krim, teman dimana dia sedang sendiri. Dan sekarang, dia harus menabung sendiri untuk bisa makan es krim. Sahabatnya telah pergi.

Hidup manusia siapa yang tau? Siapa sangka bocah yang masih duduk di kelas 5 SD ini mendahului kedua orangtuanya, mendahului sanak keluarganya yang umurnya terpaut jauh. Masa dimana seharusnya dia bermain dengan teman-temannya, masa dimana ia seharusnya meneguk ilmu sebanyak-banyaknya. Sungguh umur manusia tidak bisa ditebak, begitu juga kematian, siapa yang tau rahasia tuhan? Hanya bisa mengira-ngira saja. Manusia tak ada yang tau kapan kematian akan menjemput, kita hanya bisa pasrah, hanya bisa berdoa agar kematian kita khusnul khotimah. Aamiin. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s