Malang Tempo Doeloe “2014”

Setelah menunggu kedatangan kawanku dari kosnya, kami pergi bersama untuk melihat sebuah acara besar yang diadakan oleh Kota Malang. Malang Tempo Doeloe(02/05/’14) merupakan salah satu usaha pemerintah Kota Malang untuk melestarikan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kota Malang mulai dari beberapa waktu silam. Sebuah angkot biru telah berhasil mengantarkan kami menuju alun-alun kota, meskipun kami harus berjalan untuk beberapa meter sehingga bisa mencapainya. Keadaan macet ke arah karnaval, rasanya seperti seluruh warga Kota Malang berkumpul untuk menghadiri acara rutin 2 tahun sekali ini. Sungguh pemandangan yang tak biasa di Kota Malang ini. Ini pertama kalinya aku melihat Kota ini se-macet ini. Memang, acara ini telah menyihir setiap orang untuk datang melhat keberagaman yang tersedia disini.

Memang sedikit malang nasib kami, sesampainya di tempat tujuan, hujan deras tiba-tiba mengguyur daerah yang ramai ini. Segera, kami berlari menuju Masjid Agung di pusat kota ini, tak lain dan tak bukan untuk melaksanakan shalat ataupun tempat untuk berteduh bagi kami yang tak memiliki payung. Betapa kagetnya kami melihat mulut masjid yang sudah banyak orang, mereka datang ke masjid bukan untuk melaksanakan shalat maghrib yang waktunya sudah hampir habis, melainkan hanya untuk berteduh, entah mereka sudah melaksanakan kewajiban atau belum.

Dengan susah payah kami akhirnya berhasil masuk dan meraih tempat wudhu. Entah ini memang suatu kebetulan atau bagaimana, semua air di tempat wudhu perempuan mati, tak ada setetes air pun mengalir dari puluhan kran disini. Dari kejauhan nampak banyak orang menggengam botol-botol air minum untuk ber-wudhu, ketika kutanya ternyata ada seorang ibu yang berjualan air, harga satu botolnya dua ribu rupiah.

“Seekkkk, ini wudhunya berarti beli air minum? Modus banget kran mati? Ini keran mati ato di sengaja dimatikan supaya air minum produksi sendiri ini laku? Astagaaa “ ucapku kepada beberapa temanku yang hendak ber-wudhu juga. Dengan sedikit berat hati pun kami berwudhu dengan air minum dalam botol ini. Kami hanya berfikir, bagaimana air bisa mati di masjid sebesar ini, sedangkan di tempat wudhu putra baik-baik saja. Aneh.

Setelah hujan reda, masjid pun kembali sepi, satu persatu dari mereka pun melanjutkan perjalanan sebagaimana yang sudah mereka niatkan dari rumah tadinya, dan begitu pula kami. Kami memulai perjalanan dengan disambut banyak para penjaja makanan, beberapa mainan, dan beberapa orang minta-minta. Pemandangan ini tak jauh beda seperti alun-alun di kotaku dulu, tak ada yang spesial. Aku yang bukan penduduk asli Kota Malang ini ingin sekali melhat festival dimana kita bisa memutar otak kembali ketika Kota Malang belum menjadi salah satu kota besar di negeri ini. Puluhan pedaganglah yang memenuhi lapangan nun luas ini.

Akhirnya, kami memutuskan untuk berjalan jalan sebentar memutari alun-alun, mencari makanan yang sekiranya unik, yang tak kami jumpai pada hari biasa. Kami temukan seorang pedagang kerak telor di pojokan alun-alun menghadap gedung megah Ramayana. Sebuah makanan khas ibukotapun ternyata dijajakan di festival ini. Berjalan sambil melihat gambar-gambar besar yang merupakan potret bangunan masa lalu, seperti gedung Bank Indonesia ketika pertama berdiri, gambar alun-alun pada zaman dahulu dan beberapa gambar lainnya. Semua terpajang di setiap sudut jalan. Tak heran jika banyak orang yang mengantri untuk berfoto di backdrop menarik seperti itu, dan begitu juga kami.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 malam, sebenarnya kami ingin tetap terus menikmati keindahan Kota Malang ini sampai malam, tapi apa daya? Kami punya kewajiban untuk tak pulang terlalu malam, peraturan. Karena semakin lama suasana semakin ramai, kami memutuskan untuk berjalan hingga mendapatkan angkot sepi, karena sejak tadi tak ada celah sedikitpun bagi angkutan untuk bergerak. Hinga sekitar lebih dari 500 meter, akhirnya kami mendapatkan sebuah angkutan yang bisa mengantarkan kami pulang. Acara Malang Tempo Doeloe nya memang kurang menarik, tapi minimal kita mendapatkan makna kebersamaan antar teman, karena rombonganku merupakan anak-anak debat di universitasku. Berharap kegiatan ini bisa tetap menyolidkan, mengompakkan agar komunitas ini akan tetap berdiri sampai kapanpun. Memang hanya sedikit peminat debat di kampusku, apalagi kami dituntut untuk menyampaikannya dengan Bahasa Inggris, terstruktur. Sungguh aktivitas yang membosankan bagi setiap orang. Semoga dengan keluar bersama ini membuahkan suatu yang baik bagi kebersamaan kelompok ini. Go ADC (Advanced Debate Community) !!!! Go Debate!!!

2 thoughts on “Malang Tempo Doeloe “2014”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s