Balada Buku yang Tertinggal

Tuhan memang memiliki cara kepada setiap umatnya, selalu ada cara bagi-Nya untuk menjelaskan betapa agungnya kuasanya. Kejadian ini berawal ketika aku sedang patah semangat, hari Minggu kemarin (23/03/14) aku datang di sebuah acara yang diselenggarakan salaha satu Universitas swasta di Surabaya. Sebuah rentetan acara yang dilaksanakan sejak hari Jum’at dan hari ini merupakan puncak dari acara tersebut. Aku datang bersama teman sekamarku. Sebuah acara bertemakan tentang bagaimana menciptakan kedamaian antar umat beragama ini dilaksanakan di Petungsewu Adventure, Malang. Sebuah acara dimana kita diperkenalkan tentang Agama Islam dan Kristen secara detail, tentang apa yang diyakini, tata tertib maupun bagaimana perlakuan antar umat beragama. Tanya jawab pun terjadi setelah narasumber menjelaskan secara detail mengenai kedua agama tersebut. Acara berakhir sekitar pukul 12.00 WIB.

Entah mengapa, sebelum pulang aku meminta sebuah balon kepada panitia untuk di bawa pulang, akhirnya akupun di beri dua buah balon sebagai oleh-oleh. Setelah menuruni jalanan yang begitu terjal, aku merasa bahwa dua balon ini memberatkan perjalananku, akhirnya temanku meminta ijin untuk menerbangkan kedua balon tersebut, aku menolak. “ Jangan, pegang ajja balonnya sebentar sampai ketemu anak kecil, lalu kita berikan ke mereka”, ujarku. Pasca melewati Wisata Petik Jeruk Selorejo, aku melihat sekelompok anak sekolah dasar duduk-duduk di atas bebatuan sebelah musholla kecil, akupun berhenti. Seketika aku berhenti, anak-anak langsung teriak “Balonnn . .  mauuu . . “. Padahal mereka tak tau apa yang akan aku lakukan dengan kedua balon ini. “Adek mau balon? Ayo kesini” ajakku sambil meringis kepada mereka. Merekapun lari sambil tertawa-tertawa menghampiri balon yang temanku pegang. Kamipun meneruskan perjalanan pulang dengan hati yang begitu bahagia melihat anak-anak tersebut senang menerima balon kami.

Sesampainya di kamar, aku langsung menjatuhkan tubuh ini di Kasur, seketika akupun terlelap. Aku terbangun dari tidurku ketika seorang mengirimi sebuah pesan yang berisi tentang menanyakan sebuah buku yang aku baca tadi. “Astaga . . bukunya lupa, tadi kebawa di tasku “ dengan keadaan yang sedikit panik, aku mengiyakan untuk mengembalikan buku malam ini. Setelah kudapatkan alamat beliau, aku segera mencari letak rumah seperti yang beliau beritahukan padaku. Setelah bertanya kepada beberapa orang akhirnya sampailah aku pada sebuah rumah sederhana di sudut perumahan Bandulan Asri. Sebuah rumah yang berada di sebuah perumahan indah, yang selalu sepi setiap saat, namanya juga perumahan.

Secangkir kopi pun disuguhkan kepadaku, secangkir kopi inilah yang membawaku terhanyut dalam sebuah diskusi ringan membahas sesuatu yang sepele awalnya. Sebuah diskusi ringan mengenai acara pagi tadi membuka percakapan kami, sedikit evaluasi diberikannya dengan santai, sedikit penolakan atas keganjialan acara yang telah terselenggara pagi tadi, akupun menyadarinya. Dilanjutkan tentang pembahasan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 April besok,pembahasan mengenai beberapa sistem yang berlaku di Indonesia, sistem yang tidak begitu adil bagi semua orang, negeriku yang malang. Aku juga baru mengerti bahwa betapa terpuruknya bangsaku ini pasca ku dengar sepenggal sejarah dari beliau. Sebuah sejarah yang tak pernah aku sadari sebelumnya, betapa sejarah itu memihak pada sang pemenang, betapa sejarah begitu tak adil.

Pembicaraan pun semakin membawaku ke masa lalu, sebuah tragedi besar tentang negeriku, sebuah peristiwa dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) diburu dimana-mana, rasanya aku seperti kembali ke bangku sekolah dasar, dimana guru-guruku bercerita tentang kejadian tersebut. Sedikit membuatku bingung mengenai tragedi berdarah tersebut, Antara cerita dulu dan cerita yang aku dapat barusan, sungguh membingungkan. Sekali lagi, sejarah hanya memihak pada siapa yang berkuasa.

Sebuah buku telah kupegang, dan beliau mengijinkanku untuk membawanya pulang dengan harapan bisa melanjutkan diskusi lagi. Karena memang waktu yang begitu singkat, aku mengakhirinya. Terbesit perasaan sedih ketika harus berpamitan dengan seorang yang telah membuka mataku beberapa jam terakhir, tapi mau dikata, waktu belum mengijinkanku untuk singgah lebih lama.

Di perjalanan, aku menyadari satu hal. Rentetan kejadian hari ini sudah di atur oleh sang kuasa. Diskusi lintas agama, sebuah balon, dan secangkir kopi malam ini, semuanya sudah digariskan kepadaku. Aku terdiam dalam lamunku. Ternyata Tuhan punya cara tersendiri, kalau buku tadi tak terbawa di tasku, aku belum tentu dapat jutaan ilmu dengan secangkir kopi tadi, kalau saja aku tak meminta balon, tak mungkin ada pancaran kebahagiaan dalam segerombol anak tadi. Sebuah kebahagian yang terpancar dari segerombolan anak yang telah menerima balon siang ini telah aku rasakan. Aku bagaikan anak yang mendapatkan balon dari orang lain, sebuah ilmu yang begitu berharga, sebuah ilmu yang belum pasti ada di buku-buku yang di jual di pasaran. Ilmu mengenai pribadi diri, negeri sang sedang kacau, maupun agama yang begitu gonjang-ganjing. Berjuta puji syukur aku lantunkan. Ucapan puji syukur aku lantunkan kepada Sang Pemberi Rizki, dan tak lupa kepada semua orang yang telah mengajariku tentang arti kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s