Bahasa dalam secangkir kopi

Menikmati secangkir kopi dengan ditemani gerimis hujan rasanya seperti hidup yang tanpa beban. Tidak semua orang suka kopi, tapi juga tak sedikit orang yang suka kopi. Memang tak bisa terelakkan kenikmatan ketika kita disuguhkan secangkir kopi. Rasa yang begitu nikmat, menggoda seluruh penggemarnya. Aroma yang begitu khas pun keluar dari berbagai rasa yang disuguhkan. Indonesia punya banyak variasi dan jenis kopi. Ada yang diproduksi dengan bantuan hewan, ada yang menggunakan tambahan cokelat, dan masih banyak lagi lainnya. Beraneka rasa dikreasikan demi memenuhi kepuasan para pecinta kopi di tanah air ini. Cita rasa tak tertandingi.

Dengan keberagaman kopi, semua kalangan pun menyatu. Tak ada perbedaan usia, gender, maupun kedudukan ketika dihadapkan bersama kopi. Sebenarnya, juga masih banyak keberagaman di negeri kaya raya ini. Iya, budaya. Indonesia sangat terkenal akan keberagaman budayanya, mulai dari Sabang hingga Merauke. Mulai dari pelosok negeri hingga keramaian kota. Kita mengenal budaya sopan santun yang menjadi ciri khas dari daerah Jawa Tengah. Budaya jual beli dari daerah barat Pulau Jawa, dan masih banyak yang lain. Bukan hanya budaya saja yang dimiliki oleh Indonesia. Tapi, keberagaman suku dan bahasa pun tak luput dari perkembangan. Ratusan, bahkan ribuan logat pun disuguhkan di setiap penjuru negeri. Tapi, ada satu bahasa kekuatan, bahasa yang bisa menyatukan keberagaman yang beraneka ragam ini. Bahasa Indonesia. Bahasa persatuan. Seperti layaknya kopi, berbeda-beda variasinya.

Betapa sangat terbantu ketika kita ingin mengunjungi suatu daerah dimana kita tak mengerti apa yang mereka ucapkan, lalu ketika kita meminta mereka berbahasa Indonesia mereka bersedia. Sungguh bahasa tak memutuskan tali persaudaraan se-tanah air. Betapa bahasa merupakan alat komunikasi lisan dalam aktivitas sehari-hari. Bahasa resmi yang selalu kita gunakan kemanapun kita berada. Mengenal Indonesia melalu bahasa.

Dibalik keagungan Bahasa Indonesia di tanah air ini, kita tak pernah menyadari bahwa tak selamanya Bahasa Indonesia baik, bahkan bisa dikatakan berbahaya. Coba kita renungkan bersama. Bayangkan kalau kemanapun kita pergi, kita menggunakan Bahasa Indonesia, yang katanya bahasa persatuan. Sekilas memang tampak menyenangkan bisa saling berkomunikasi dengan bahasa yang bisa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat. Tapi, tak sadarkah kita?? Karena sering mengagung-agungkan Bahasa Indonesia, kita secara tak sengaja lupa akan Bahasa Daerah kita. Tak sedikit orang jawa yang tak bisa berbicara Bahasa Jawa, terutama para generasi penerus bangsa saat ini. Itu semua karena sejak kecil mereka sudah dibiasakan menggunakan berbahasa Indonesia.

“Sudahlah, biarkan anak kita belajar bahasa di sekolah saja. Tak usahlah kita mengajarkan Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris di rumah, toh mereka juga akan belajar di sekolah mengenai bahasa” Begitulah ucapan ringan yang telah disampaikan oleh salah satu dosen di kampus saya mengenai Bahasa.

Memang sedikit aneh rasanya ketika kita ditanya orang, dan mengaku bahwa kita orang Jawa tapi tak mengerti sama sekalipun mengenai Bahasa Jawa. Sungguh memalukan sekali kalau kita melupakan Bahasa Daerah kita masing-masing. Ini merupakan tamparan besar bagi pemuda dan orang tua yang terlalu keras mendidik, mengajarkan Bahasa Indonesia atau yang lainnya. Dalam kasus ini, kita tak bisa menyalahkan siapapun memang bahasa itu akan berkembang seiring perkembangan zaman. Semua barang menggunakan Bahasa Indonesia, malah banyak sekali yang sudah berbahasa Inggris.

Karena tak mau dianggap kudet (kurang update), hamper semua muda mudi berbicara Bahasa Indonesia, juga tak sedikit yang cas cis cus berbahasa Inggris. Keberagaman Bahasa daerah pun terkikis oleh bahasa-bahasa modern. Tapi, apakah kita tak mau melestarikan Bahasa daerah kita?? Bahasa dimana tempat kita dilahirkan?. Jadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang benar-benar bisa menyatukan, merangkul semua bahasa. Bukan malah menjadi bahasa yang berdiri tegak atas runtuhnya Bahasa Daerah. Jangan biarkan Bahasa Daerah kita habis dimakan zaman. Pemuda, jangan takut berbahasa, berbicaralah dengan lantang Bahasa daerah masing-masing. Kalau bukan kita, siapa lagi???

Memang sesuatu itu tak pernah kita sadari sebelumnya. Bukan maksud hati ingin melarang sahabat semua untuk mempelajari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau bahasa lainnya, bukan. Disini, saya hanya mau mengingatkan bahwa tak selamanya bahasa itu dijunjung tinggi, hanya dengan mengorbankan bahasa lokal. Kalau ini terus berlanjut, diperkirakan 100 tahun yang akan datang tak akan lagi ada keberagaman Bahasa di negeri Indonesia. Tak ada lagi kebanggaan Bahasa dan budaya, karena budaya akan terus berkembang, tak terkecuali bahasa. Jadi, kalau memang ingin melestarikan bahasa, jaga Bahasa Daerahmu, agar tetap eksis. Tak terlindas oleh bahasa-bahasa lainnya.

Begitulah bahasa, beragam dan memiliki keunikan tersendiri. Tak berbeda pula dengan secangkir kopi yang sering kali kita jumpai. Memiliki beraneka ragam rasa dan aroma. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s