Banjir oh Banjir . . . .

  Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa 
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita 
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang ”

Berita kepada Kawan; Ebiet G. Ade

Begitulah sebait lirik dari penyanyi legendaris di tahun 80’ tersebut menjadi pengiring di awal tahun ini, betapa tidak? Sudah sekitar satu minggu ini banjir telah melanda beberapa daerah di ibukota Jakarta. Beberapa rumah pun tenggelam akibat tingginya air dan beberapa tanggul yang jebol di daerah JABODETABEK. Ketinggian air yang mencapai 2 meter ini berhasil membuat kerusakan yang begitu parah, banyak dari penduduk yang mengungsi di tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah.

Setelah ditelusi oleh beberapa kelompok masyarakat ternyata banjir ini hampir terjadi setiap tahun, banjir ini kerap kali menenggelamkan puluhan rumah warga di daerah yang rawan banjir tersebut. Bahkan menurut pengakuan, banjir tahun ini tidak seberapa parah dari yang tahun kemarin. Entah alasan apa yang membuat mereka, para penduduk di daerah rawan banjir tak mau pindah ke kawasan yang lebih aman, daripada harus mengungsi setiap tahunnya karena banjir langganan ini.

Status Siaga III lah yang di dapat oleh beberapa daerah yang berada di ibukota, ini dikarenakan ketinggian air di Bendungan Katulampa mencapai 110 cm(21/01). Tapi, tak ada yang tau mengenai hari esok, apakah akan semakin berkurang ataupun sebaliknya. Tinggal berdoa saja supaya intensitas hujan tidak naik setiap harinya.

Sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga banjir melanda ibukota Negara kita ini? Apa yang sudah manusia-manusia ini perbuat sehingga alam pun menolak kita. Secara otomatis banyak sekali orang yang tertunda melaksanakan rutinitas mereka karena banjir ini. Hanya segelintir orang saja yang tetap menjalankan aktifitas sehari-harinya. Mari renungkan bersama perbuatan apa yang sering kita perbuat hingga banjir ini menjadi langganan di daerah tersebut.

Sejatinya, sungai-sungai itu harus mengalir lancer penuju perairan luas, tapi hanya segelintir orang saja yang mau mematuhi peraturan, padahal sudah jelas terpasan papan peringatan mengenai larangan untuk membuang sampah di sungai, inilah yang sering kali kita jumpai di bantaran Sungai Ciliwung, sungan yang melintasi ibukota ini. Karena menumpuknya sampah yang terlalu banyak inilah yang menjadi salah satu factor air kian menggenang, ditambah lagi intensitas hujan yang semakin naik, dipastika ini akan berlanjut hingga awal Bulan Februari depan.

Kalau saja manusia itu turut menjaga alamnya, pasti alam tak akan marah karena di sia-siakan. Ini merupakan peringatan buat kita semua, bukan hanya ibukota saja yang sedang dilanda musibah, musibah ini untuk semua. Mengingatkan seluruh lapisan masyarakat pentinya buang sampah pada tempatnya. Karena sampah itu hal sepele, maka banyak orang melupakannya. Tapi, dari masalah sepele tersebut akan menghasilkan masalah besar apabila tak dihiraukan oleh semuanya. Semoga kita bisa belajar dari musibah ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s