:: Gag Jelas ::

Entah sampai kapan perasaan ini akan menghilang, telah lama kucoba berbagai cara agar aku bisa melupakanmu tapi aku tak bisa. Banyangan dirimu selalu menghantui pikiranku di setiap saat, entah kenapa kau muncul di kehidupanku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana kau bisa masuk dalam hidupku dan menghancurkan semangat hidupku saat ini. Bukan aku menyerah untuk mencintaimu, tapi aku sudah terlalu lelah untuk mengejar sesuatu yang tak pernah melihatku sama sekali. Aku sudah mencoba menyakinkan diriku sendiri untuk segera membuang semua ingatan tentangmu, tapi itu semua percuma.

Penderitaan ini berawal ketika aku pertama kali bertemu dengan seseorang yang tak pernah aku sangka sebelumnya, kami bertemu di sebuah toko buku di kotaku. Ketika itu, aku sedang mencari sebuah novel dari salah satu pengarah tersohor di negeriku, sebuah buku yang menceritakan arti sebuah pengorbanan seorang pelajar untuk tetap menggapai impian meskipun dengan keterbatasan ekonomi. Dengan semangat yang kuat akhirnya dia tetap bisa melanjutkan kuliah hingga ke luar negeri, sungguh prestasi yang membanggakan dan patut menjadi contoh untuk semua pelajar maupun mahasiswa Indonesia saat ini.

“Brakkkkk . . . .”

Sebuah buku terjatuh dari kejauhan sana, entah apa yang sudah dia lakukan sehingga buku yang dia gendong pu terjatuh.

“Hati-hati kalo bawa buku” senyumku padanya.
“Banyak amat beli bukunya? Borong nih? “ candaku padanya.

Aku tak pernah mengenal dia sebelumnya, tapi insiden itu membuatku mengenal siapa dia. Seorang yang tak pernah terbayangkan pernah merusak kehidupanku saat , seorang yang pernah membuat hari-hariku gelisah.

“Sudahlah lupakan, aku tak mau mengingat ini semua” akupun berlalu dengan menggenggam masa lalu yang kelam. Aku masih punya banyak waktu untuk melanjutkan hidupku, tak hanya untuk memikirkan seseorang yang tak pernah menganggapku ada. Biar angin yang akan membawa cerita sedihku ini. Akupun berlalu, membawa sepenggal cerita lama.

Setelah sekian lama aku tak pernah mendengar kabar tentangnya, aku hanya memiliki beberapa teman yang selalu menghiburku. Mereka tak seberapa tau mengenai masalahku ini, yang mereka tau adalah aku telah dikecewakan oleh seseorang yang tak penah aku kenalkan ke mereka, akupun tak pernah berniat untuk memberitau mereka, entah darimana mereka tau dia, yang satu-satunya tau yaitu Dani, tapi aku yakin dia tak membocorkan ke siapa- siapa. Singkat saja, dia bernama Faris, seorang asal Kota Kembang dengan perawakan tinggi semampai dan berkulit sawo matang. Ketika kami masih berhubungan dia sedang menempuh studi di Universitas Harapan Baru di Bandung semester 3.

“Saranku, gag usah ngurusin  anak yang namanya FARIS, banyak yang lebih penting dari itu Din, gag penting ahh “ sambil berdiri dan mengacungkan jari tengah di depan mukaku, Dani berkata seperti itu.

“But . . . kamu gag pernah tau bagaimana perasaan ini, Plisss gag usah bikin aku malah tambah galau “ aku tak bisa berkata-kata, aku hanya meneruskan tangisku, meluapkan segala amarah kepada sahabat dekatku ini. Selama ini, dia yang tau tentang perasaan ini, dia yang mengerti, dia yang sering menasehatiku ketika aku mulai melenceng dari siapa diriku sebenarnya.

“Kamu gag inget sama yang dia katakana sebelum dia menghilang entah kemana itu, aku harap dia gag balik sekalipun”

“Udah gag usah di bahas lagi Daniii . . . . lupakann !!!!” tegasku

“Nah, kamu sendiri nyuruh aku lupakan masalahmu, trus kenapa kamu gag bisa lupakan sendiri? Bulshit . . , terserah kamu lah, males aku dengernya “ dengan perasaan sedikit kecewa yang tergambar jelas di wajahnya dia meninggalkanku, duduk sendiri di keramain Alun-Alun Kota ini. Di keramaian aku merasa sepi.

Aku hanya memiliki Dani saat ini, tapi dia baru saja meninggalkanku di tengah-tengah kesedihan ini. Mungkin dia sudah lelah memperingatkan sahabatnya yang begitu keras kepala. Kini, aku hanya bisa meratapi betapa sialnya diriku saat ini, terpuruk dalam kesedihan yang begitu dalam seakan dunia sudah enggan menerimaku untuk tinggal di sini. Semuanya bagaikan menolak kehadiranku, kalau saja aku bisa pergi, aku akan pergi sejauh- jauhnya. Meninggalkan kehidupanku selamanya.

“Telah ditemukan mayat seorang gadis berumur sekitar 23 tahun di tepi Sungai Sepatu”

“Baca berita di Koran hari ini? “ teriak Sari dari kejauhan sambil berlari lari gopoh

“Kenapa Sar? Ada apa? Gag usah ngagetin gitu talah, ayo crita pelan-pelan ada apa” Dani yang sedari tadi asik membac buku harus terhenti karena kedatangan Sari.

“Nih baca sendiri . .” sambil memberikan Koran Harian Bandung ke Dani.

“Hahh?? Sumpah lo ?? trus kamu pikir ini Dina? Di sini gag ada keterangan nama, cuman umur doing, haduhh gimana nih ?? Dani pun ikutan panik.

”Buruan samperin ke rumahnya yuk? Khawatir aku ma tuh anak, jangan- jangan . . .” sambil memukulkan jati telunjuknya ke kepala.

“Hushhh !! gag usah mikir aneh- aneh, ayo buruan kesana!!”

Mereka berdua pun segera masuk ke mobil merah milik Dani dan segera menuju tempat yang dimaksud, rumah Dina. Sesampainya di rumah Dina ternyata ibunya pun khawatir tentang Dina yang sudah beberapa hari tidak pulang

“haduh gimana ini ? Dina juga belum pulang beberapa hari ini “ ibu Dina pun cemas.

Dani dan Sari pun tak berani memberitahukan kabar di Koran pagi ini, takut malah membuat ibu Dina khawatir. Kamipun memutuskan untuk melihat sungai yang menjadi TKP di Koran hari ini. Mobilpun meluncur.

Sesampainya di tepi sungai, kami tak melihat tanda-tanda adanya kecelakaan di sini, tak ada garis pembatas polisi ataupun polisi sekalipun. Kami hanya melihat . . ..

“ehhh Din? Ngapain lohh ? ya Allah syukurlah lo gapapa, cemas tau kita, bego’ nih anak “ Sari yang melihat Dina dari kejauhan langsung melompat turun ke pinggiran sungai.

“Kupikir yang ada di berita pagi ini kamu Din, gila’ lohh buat kami khawatir saja, ibumu loh nyariin” Dani pun ikut menyalahkan Dina atas kepergiannya beberapa hari ini.

“Ehh ni anak gag dengerin, ehh “ sambil menggoyangkan tubuh Dina yang bersandar di batu besar di pinggir sungai.

Karena penasaran kenapa Dina hanya diam saja, kami berjalan berbalik arah agar bisa melihat raut wajahnya. Kamipun kaget ketika melihat wajah Dina yang pucat seperti orang yang . . .

“ehh Din? Ehh? Ya Allah anak ini ternyata . . .” sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, saripun menghampiri Dani dan menangis sesenggukan.

“Innalillah wainnailaihi rojiun . . . ya Allah Dina kenapa bisa seperti ini? “ Ujar Dani yang diam terpaku di sebelah tubuh tak bernyawa ini.

“Nih baca, ini kutemukan di sebelah batu itu” sambil menunjukkan sepucuk surat yang dia ambil di sebelah tubuh Dina.

Ketika kalian membaca surat ini berarti aku sudah berada di tempat tertinggi di sisi tuhan, aku rindu tuhan J. Aku tau kenapa kalian binggung melihat kejadian ini, aku minta maaf atas semua masalah yang aku buat selama ini, aku minta maaf atas tindakan ini, aku hanya tak sanggup bila harus tetap meneruskan hidupku, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Seseorang yang paling berharga yang aku miliki telah pergi meninggalkanku beberapa hari yang lalu, ibuku tertabrak mobil sepulang dari pasar bersamaku sore itu, itu semua salahku yang membiarkan beliau membawa bayak barang sehingga tak melihat keadaan sekitar. Aku sangat terpukul, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di bumi ini, bumi ini terlalu kejam untuk kulalui sendiri, ayahku yang tak pernah mengurusku, meninggalkan dan menyakiti ibu, dan sekarang aku tak punya ibu, maafkan aku kawan, aku harap kalian bisa menerima apa yang telah aku lakukan saat ini, terima kasih sudah menghiburku, sudah menghiasi hari-hariku selama ini.

Aku melakukan ini bukan karena aku kecewa dengan seseorang yang pernah menyakitiku, itu semua kulakukan agar aku tak membebani kalian mengenai kematian ibuku, aku tak mau kalian turut sedih, kalian sudah terlalu baik buatku. Sekarang, aku sudah bertemu dengan ibuku, selamat jalan teman, terima kasih atas semua bantuannya.

 

“Ehh tunggu, dia bilang ibunya meninggal bebrapa minggu yang lalu, trus yang tadi di rumah itu siapa guys? “ dengan parno Sari pun menatap Dani.

“sreeeekkkkkkk . . . ..  .”

Dari kejauhan Nampak segerombol batu kerikil seakan membentuk sebuah kata yang bertuliskan “Hi Guys “

“Aaahhhhhh . . . . . . “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s