Kesederhanaan milik siapa saja

Kesederhanaan memang bisa dimiliki oleh semua orang, bukan hanya milik individu yang mau saja, hal ini dapat dibuktikan dengan keikhlasan menjalankan sesuatu yang sebenarnya itu tak seharusnya dilakukan. Pernah saya temui di salah satu stan makanan di kantin tempat saya menuntut ilmu sekarang, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Terdapat salah seorang ibu kantin yang sekarang merupakan istri seorang Wakil Walikota Malang, tak menyangka ternyata beliau tetap memutuskan untuk meneruskan usahanya meski suaminya sekarang sudah berada di kursi DPRD.

“ Saya itu punya anak 3 dan mereka semua loh mondok mbak, trus suami saya pagi y owes berangkat ke kantor, trus saya di rumah ngapain? Toh rapat PKK pun cuman seminggu tiga kali tok “ jelas sosok yang berusia sekitar 41 tahun ini. Bu Endang mengaku bahwa meneruskan pekerjaannya ini bukan semata-mata ingin mencari sensasi bahwa istri wakil walikota yang berjualan nasi. Hal ini semata-mata hanya untuk mengisi waktu luangnya, agar tidak nganggur di rumah, apalagi bu Endang mulai berjualan di UIN ini sejak tahun 2007 ketika Ma’had (asrama) baru dibuka.

Dalam satu minggu terakhir ini tercatat sekitar 3 media cetak yang telah mewawancarai bu Endang ini, dari Koran Surya, Republika dan Detik.com. Bu Endang pun menyambutnya dengan ramah karena memang bu Endang ini terkenal ramah dengan mahasantri yang setiap saat selalu memenuhi stannya untuk makan atau sekedar ngopi atau ngeteh. Sempat bu Endang mengatakan bahwa kedekatan antara beliau dengan mahasantri itu sangat dekat, seperti antara ibu dan anak.

Memang nampak sedikit aneh mengingat bu Endang sekarang merupakan istri orang penting di Kota Malang ini, tapi ini tak menutup kemungkinan bahwa beliau malu atas pekerjaanya tersebut. “ Asal itu hahal yo gapapa mbak, la nggeh? “ candanya sambil menyeruput es yang sudah di buatnya. Kamipun tertawa olehnya.  Pembicaraan ini pun berakhir ketika kopi yang aku sruput daritadi mulai habis sedikit demi sedikit. Akupun menyerahkan selembar uang duaribuan kepada beliau sambil mengucapkan terima kasih atas semua, tentang ilmu yang telah disampaikan dan atas keramahan beliau kepadaku.

Perjalanan pulang aku pun merenung ternyata masih ada sosok yang merakyat seperti beliau, jabatan yang diperoleh oleh suaminya tak merubah sikap yang ia miliki seperti ketika beliau menjadi seorang ibu kantin biasa, yang bukan merupakan istri Walikota seperti saat ini. Beda sekali seperti apa yang sering kita temui di kalangan pejabat yang lain, mereka menjadi berubah karena sebuah jabatan yang mereka miliki, mereka mulai membedakan perbedaan lingkungan antara beliau dengan masyarakat lainnya. Sikap keserdehanaan membaur dengan masyarakat inilah yang sangat jarang dimiliki oleh sebagian orang yang memiliki jabatan di pemerintahan, sikap yang benar-benar ikhlas meneruskan hidup dengan bekerja keras. Semoga bu Endang bisa menjadi inspirasi untuk para ibu-ibu yang bakal menjadi istri pejabat atau bahkan akan menjadi pejabatnya sendiri. J (08/11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s