Sekolah Berlumpur

 

           Assalamu’alaikum Warahmatullah…

Saya disini berbicara sebagai saya sendiri. Siswa yang sekolah di sekolah pelosok. Saya sekolah di sebuah pesantren di pedalaman Sumenep, Madura. Jika kalian ke sini, kalian tidak akan menenemukan jalan akses besar, hanyalah sebatas jalan pedesaan. Jika bis mau masuk sini, sangatlah sulit, bahkan hampir tidak bisa, karena sempitnya jalan, berliku-liku karena di perbukitan, belum lagi kanan kiri jalannya yang berupa jurang. Baik, begini, sekarang kita bicara fasilitas sekolah kami yang serba berkecukupan. Di sekolah saya, hanya ada sekitar 8 ruang. Yang terdiri dari 6 ruang kelas dan satu kantor yang juga sekaligus sebagai ruang guru dan kepala madrasah. Satu ruang OSIS, dan satu toilet. Perpustakaan? Laboratorium Komputer? Laboratorium Bahasa? Maaf, kami di sini masih belum tahu seperti apa itu. Untuk Laboratorium IPA, kami memang tidak memilikinya, karena jurusan di sekolah kami hanya satu, yaitu Kegamaan, jurusan yang sudah jarang ada dan jarang dipedulikan di Indonesia.

Halaman sekolah kami setiap musim hujan selalu becek, karena dulunya tanah sekolah kami adalah tanah persawahan. Kalian pasti tahu seberapa ‘mahalnya’ tanah sawah untuk dibeli. Ya, memang itulah kemampuan sekolah kami. Tidak seperti kebanyakan sekolah lain yang bisa membeli tanah bagus di kota-kota. Sudah begitu, halaman dan akses jalannya diaspal dengan baik, terpasang pavingstone, dan kadang lengkap pula dengan tamannya. Sedang sekolah kami? Jika membeli tanah bagus saja sudah teramat sulit, apalagi mengaspal dan memasang pavingstone di halaman dan jalan sekolah? Jadi, dalam setiap harinya, kami memang tidak pakai sepatu, semua siswa pakai sandal jepit! Bisa dibayangkan. Bahkan, jika ada siswa yang pakai sepatu, itulah yang asing bagi kami. Jika seandainya kami semua disini memakai sepatu, apa iya, para siswa miskin seperti kami semua rela membiarkan sepatu kami sendiri yang susah payah kami usahakan sebelumnya menjadi rusak hanya karena lumpur-lumpur sawah di jalan sekolah kami? Bukan hanya sehari-dua hari, setiap hari! Memakai sandai saja kami masih sangat kesusahan melangkah di jalan itu. Bahkan tak jarang, sandal yang kami pakai malah tidak bisa kami angkat kembali. Menempel di lumpur tadi. Ah, hal itu sudah biasa, tak perlu diperhatikan lebih banyak.

Untuk seragam sekolah yang bagus-bagus dan mahal yang biasanya dijual oleh sekolah, lupakan saja untuk di sekolah kami. Kami di sini bebas pakai seragam yang dibeli dari mana saja, asal tidak menyalahi peraturan seragam sekolah. Bahkan hampir kebanyakan dari kita masih memakai sisa seragam SMP/MTs, seperti baju putih untuk hari Senin-Selasa. Seragam Pramuka juga, kebanyakan dari kita memang memakai sisa SMP/MTs dulu. Jadi, jika kalian ke sekolah kami, kalian tidak akan menemukan tiga siswa saja yang tingkat kecerahan warna seragamnya sama bersih dan bagus. Semuanya lusuh dan berwarna tak karuan. Tapi ya, what to be done? Kadang, dari keterbatasan inilah kita semakin semangat dan jauh lebih termotivasi. Guru saya pernah bilang, “kadang keterbatasan itulah yang memacu kita untuk lebih kreatif!” Bagaimana menurutmu?

Untuk buku-buku sekolah, kami benar-benar terbatas. Sudah saya bilang, di Indonesia untuk jurusan Keagamaanya sangat jarang, jadi sepertinya pemerintah kurang peduli pada kami sebagaimana kepedulian mereka terhadap kalian yang seharusnya bersyukur bisa belajar di IPA, IPS ataupun Bahasa. Jadi, untuk buku-buku pegangan, kita memakai buku foto kopian dalam setiap tahunnya untuk pelajaran-pelajaran agama kami. Itupun, semua buku/kitabnya adalah sisa buku/kitab dari pemerintah tahun 1997! Tidak ada buku/kitab pegangan baru lagi untuk kami. Untuk pelajaran umum, karena di sekolah kami hanya ada 4 mata pelajaran ‘umum’, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan PKn, maka kami memang terbatas dalam bidang tersebut, karena buku pelajarannya sendiri, terakhir kali kami memiliki buku pegangan tersebut adalah ketika masih kelas sepuluh. Untuk kelas selanjutnya hingga sekarang kelas dua belas, kita tidak punya. Sekolah kehabisan dana, karena sekolah kami memang tidak memungut biaya SPP sedikitpun. Hanya biaya buku/kitab fotokopian tadi. Jadi, setiap tahunnya kita hanya bayar sekitar empat puluh ribuan. Itu saja, tidak ada lagi! Hanya itu.

Untuk pendanaan, sekolah kami memang paling miskin. Tetapi kami tidak pernah mengemis. Sekitar lebih satu setengah tahun lalu, sekolah kami sudah memulai membangun dua ruang baru. Satu untuk perpustakaan dan satu lagi untuk kantor, mengingat satu ruang kantor yang saya ceritakan tadi yang termasuk dalam 8 ruang tersebut adalah ruang pinjaman. Bukan bangunan milik kami sendiri. Namun, bangunan yang sudah kami bangun sejak satu setengah tahun yang lalu ini hingga kini belum selesai. Hanyalah pondasinya saja yang mampu sekolah kami bangun. Bayangkan saja, untuk membuat dua ruangan saja memerlukan waktu satu setengah tahun hanya untuk membuat pondasinya. Selama itukah? Saya yakin, jika di sekolah kalian, membangun dua ruang bukanlah hal yang sulit.

Jika motivasi kalian sebagai siswa sekolah unggulan adalah status sekolah yang berstandar Nasional atau bahkan Internasional, maka motivasi kami sebagai sekolah terbatas yang hanya belajar agama adalah: SEKOLAH BERTARAF DUNIA AKHIRAT! Kalimat ini yang biasa kami gunakan sebagai guyonan dan penyemangat belajar kami. Kami tetap bisa bersaing dalam urusan dunia, tapi kita tidak melupakan agama. Kita belajar dengan benar-benar ikhlas, dan apa adanya. Jangan sampai ada unsur untuk memperoleh bayaran dan gaji yang banyak untuk para guru, dan jangan sampai ada unsur keterpaksaan dan tekanan untuk belajar bagi kami para siswa. Mari kita murnikan niat belajar-mengajar kita karena mengharap ridha Allah semata. Bukan yang lain!

Selamat belajar dan mengambil pelajaran hidup dari segala sisi. Semangat kawan!

Wassalam,

Temanmu, yang merasa cukup dengan keterbatasan dalam belajar,
Ahmad Bassam Syamil

            Sejatinya, kami berdua mulai saling kenal dari tulisan-tulisan. Syamil, ia adalah sahabat penaku sejak tiga bulan lalu. Bagiku, ia dan teman-teman sekolahnya di sana adalah sumber inspirasiku. Dan di atas tadi adalah surat balasan pertamanya yang ia kirimkan kepadaku. Kenapa tidak melalui surel? Ah, dia bahkan kurang banyak tahu tentang e-mail. Dari situlah, kenapa aku memilih untuk saling berbalas lembaran surat dengan tulisan bertinta hitam ini. Darinya. aku bisa belajar bagaimana keterbatasan mengajari kita untuk lebih bersungguh-sungguh. Tidak lantas seperti diriku, yang serba mudah dan gampang, namun kemudian kemudahan itu hanya bisa membuat diri ini semakin bermalas-malasan. Di lain sisi, aku harus banyak bersyukur pada Tuhan sudah diberi begitu banyak kemudahan. Permasalahannya hanyalah bagaimana kita memanfaatkan kemudahan tersebut dengan sebaik mungkin. Bukan berarti kita langsung berkata no way  untuk akses yang mudah, tidak.

            Tepat Rabu, 6 Maret 2012 beberapa minggu lalu, aku sempat mengunjungi Syamil dan teman-temannya di Madura sana. Sungguh benar apa yang ia tuliskan dalam suratnya. Bahkan, menurut pribadiku, kata-katanya masih kurang mewakili bagaimana keterbatasan itu menghimpit mereka. Dari sana aku belajar tentang perjuangan! Bermula dari kunjunganku ke sekolahnya, aku sudah sangat merasa iba dengan keadaan mereka. Aku jelas merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan di sana karena aku tidak terbiasa. Tapi Syamil dan kawan-kawannya, mereka menganggap hal itu bukan sebuah halangan untuk belajar. Ya, ini kusebut “sekolah lumpur yang menginspirasi.” Sekolah Berlumpur!

            “Fatih, ulurkan tanganmu ke sini! Sudah lah, beranikan dulu! Tidak apa-apa kok!”

            “Kamu yakin? Tapi beceknya jalan ini sangat parah! Itu tadi teman-teman di depanmu jatuh tergelincir kok.”

            “Nah, kalau kamu sudah menyerah di sini, bagaimana kamu menghadapi hal yang jauh lebih besar dalam hidupmu nantinya? Sudah lah, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Laa tahzan!

            Syamil tak hentinya mengajakku untuk tetap ikut ke sekolahnya. Aku bukannya tak mau, aku juga sangat ingin melihat bagaimana cara belajar mereka, tapi ini masih terlalu sulit untuk aku lakukan, terlalu banyak rintangan. Tanah di sini bukan becek seperti halnya tanah yang terkena hujan. Lebih dari itu! Becek tanah ini beceknya tanah sawah. Coba saja dibayangkan. Begitu kami sampai di gedung sekolah Syamil, keherananku belum usai. Masih berlanjut dengan kitab-kitab yang mereka bawa. Subhanallah, ada sekitar sebelas macam judul kitab tebal tak berharkat yang mereka bawa! Jika semuanya disatukan dan dijejer, maka panjangnya hampir mencapai satu meter.

            “Syamil, kamu dan semua di sini sudah bisa baca kitab setebal ini?”

            “Ya tidak begitu juga, kita di sini memang untuk belajar kok, bukan karena sudah bisa, Tih. Saya dulu juga sama sekali tidak bisa membaca kitab sebesar ini. Sama sekali.”

            “Lah terus bagaimana ceritanya sekarang kamu bisa seperti ini?”

            “Semua itu butuh proses. Tahun pertama saya masuk sini, saya sama sekali tidak mengerti istilah-istilah Arab yang sering ustadz sampaikan. Seperti halnya dho’if, ikhtilaf, dan masih banyak lainnya. Saya alumni SMP kok, dan sekolah ini sangat kental dengan agamanya yang murni. Bukankah sangat bertolak belakang? Jawabnya sambil beriring tawa dan senyum kecil.

“Apalagi semua guru di sini adalah para kiai dan pengasuh pondok pesantren. Jadi ya, beliau-beliau ketika mengajar biasanya memang mengenakan sarung dan kopyah. Tapi, itulah yang saya suka. Oh iya, kembali ke pembicaraan tadi. Saya dulunya memang sama sekali tidak bisa dalam urusan ilmu keagamaan, Tapi ya itu, Tuhan tidak menilai hasil kita, Tuhan menilai proses. Setiap hari seusai sekolah, saya sempatkan membaca dan membuka lagi kitab yang tadi sudah kami pelajari di sekolah. Sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja, itu sudah cukup. Pokoknya jangan sampai ada waktu kosong menganggur yang tidak digunakan untuk belajar.”

            “Tantangan terberat apa yang kalian alami di sini selama ini.” aku mulai memberanikan diri bertanya jauh lebih dalam.

            “Sebenarnya, tak ada satu hal yang kami anggap sebagai tantangan berat. Kalau kita sudah menganggapnya berat terlebih dahulu, kapan kita memiliki keberanian untuk menaklukkannya? Tapi, ada satu hal yang menghalangi kami semua saat ini. Sekitar sebulan yang lalu, pihak madrasah menerima surat dari Departemen Agama, mereka memberi kami pilihan yang sangat sulit. Pertama, karena akreditasi sekolah kami B dengan nilai paling rendah, fasilitas yang kurang memadai dan pula dengan jumlah siswa yang sedikit, maka pihak Depag meminta kami agar bisa menambah lebih banyak siswa lagi, atau pada pilihan yang terberat, pilihan kedua. Yaitu, membubarkan sekolah ini. Pihak sekolah dan kami semua disini bingung bukan kepalang. Dari mana kami bisa memperoleh banyak siswa, sementara anak-anak yang meminati pelajaran agama sangatlah sedikit. Sudah begitu, fasilitas di sekolah ini ya benar-benar apa adanya seperti ini, tidak seperti di sekolah lain sekitar sini. Masa iya kami akan membubarkan sekolah ini? Menghanguskan niat murni dan semangat menggelora dari para guru dan siswa di sini? Melebur bersama cita-cita kita menjadi sebuah hal yang mustahil lagi untuk bisa kita raih? Entahlah. Empat bulan lagi adalah batas terakhir bagi kami. Dan kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Hanya satu yang bisa kami andalkan saat ini.” ceritanya panjang lebar sambil sesekali terdengar suara pelan isaknya.

            “Jika boleh aku tahu, apa itu?” Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.

            “Tunggu saja surat balasanku tiga hari lagi. Bis yang akan mengantarkanmu sudah tiba di jalan depan sana. Jangan biarkan mereka menunggu lama.”

            Minggu 10 Maret 2012, surat balasan yang kunantikan datang.

            Iya, menjawab terhadap pertanyaanmu kemarin yang belum sempat saya jawab. Tentang satu hal yang bisa kami andalkan adalah kemampuan kami. Memang benar, sekolah kami ya begini adanya. Penuh dengan keterbatasan dan hanya bisa menambal-sulam kekurangan kami dimata depag dan diknas. Tapi tolong jangan remehkan prestasi kami, prestasi-prestasi siswa di sekolah kami yang serba terbatas ini masih bisa dibilang sangat bagus dan bisa mengalahkan sekolah biasa pada umumnya. Juara tingkat propinsi? Juara Nasional? Itu lah level sekolah kami yang ‘jelek’ ini. Bahkan, beberapa tahun lalu, sekolah kami sempat memenangkan lomba Debat Bahasa Arab Internasional se-Asia Tenggara di Malaysia. Lebih-lebih ada beberapa siswa alumni yang sekarang sudah memperoleh beasiswa kuliah di luar negeri seperti Paris Prancis, di Universitas yang katanya setara dengan Sorbonne University, dan di universitas besar lainnya. Sekarang, teman kami sedang berjuang di Universitas Indonesia di Jakarta, mereka mengikuti Festival Timur Tengah. Jauh-jauh dari Madura ke Jakarta, semoga dapat memberikan hadiah buat kami yang ‘terbatas’ ini.

Pertanyaan bagus, Fatih. Memang, untuk lomba, kenapa kami sering menjuarai lomba-lomba regional dan nasional, padahal sekolah kami dalam masalah pedanaan sangatlah minim? Ketika ada lomba di tempat yang cukup jauh, seperti tingkat propinsi dan nasional, sekolah tidak membiayai kami. Jika salah satu diantara kami ingin mengikuti lomba dan mengharumkan nama sekolah, maka kita sendirilah yang harus bayar biaya-biaya kita di sana. Bukan sekolah! Tapi niat kita memang untuk mengharumkan nama sekolah. Biaya sendiri, tapi utk membuat bangga sekolah. Begitu.

Ya, benar. Tidak penting dimana kita belajar, tapi BAGAIMANA KITA BELAJAR!

Februari lalu, Pak Dahlan Iskan melakukan kunjungan pribadinya ke sini. Lalu guru kami bilang ke Pak Dahlan. “Di sini ada sekolah yang tiap tahunnya, bayarannya cuma 50 ribu.” Pak Dahlan mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat. Setelah itu, ketika Pak DI angkat bicara, beliau bilang begini: “Meskipun saya mantan Dirut PLN dan sekarang jadi menteri BUMN, jangan kira saya adalah lulusan SMA atau SMK Negeri yang bagus! Saya gak pernah belajar teknik listrik atau apalah. Saya dulu juga sama seperti kalian, belajar Ushul Fiqh, Ilmu Tafsir dan Mustholah hadits (yang memang pelajaran-pelajaran itulah yang kami pelajari di sekolah kami). Saya juga lulusan madrasah seperti kalian. Jadi, jangan pikir yang seperti kalian-kalian ini tidak bisa jadi menteri. Kalian juga bisa!”

Kutipan surat hari ini, “kadang keterbatasan itulah yang membuat kita lebih termotivasi untuk lebih bersungguh-sungguh.”

Pelajaran yang bisa aku dapat dari sekolah berlumpur tadi dan dari Syamil sangatlah banyak. Syamil adalah pribadi yang pendiam, tapi pandai bergaul dengan sesamanya. Tekun dalam belajar dan selalu pandai mengatur waktunya. There is no time without studying, itulah dia. Namun siapa sangka di balik sifat pendiamnya itu, dia sudah bisa menerbitkan buku karyanya sendiri secara Nasional dengan tiga judul dalam kurun waktu tiga tahun ini? Ah, di sekolahnya, hal itu sudah menjadi hal yang biasa, kebanyakan siswanya memang mampu menerbitkan buku.  Atau setidaknya bisa menulis dan tembus media massa, mulai yang kecil hingga media massa terkenal di Nusantara.

Siapa bilang pendidikan di negeri ini semua telah terbagi rata? Buktinya masih ada kok sekolah seperti itu. Namun meski demikian, sekolah yang seperti mereka miliki tidak harus kita bubarkan atau kita paksa untuk dijadikan sekolah yang modern. Namun, alangkah baiknya jika kita melestarikan dan memeliharanya. Saling melengkapi antara mereka yang belajar dengan cara sederhana dan yang belajar dengan iringan dan bantuan teknologi. Likulli syai-in maziyyah. Senang bisa mengenal kalian semua wahai temanku di Sekolah Berlumpur. J

MSAA UIN Maliki Malang, 7 Oktober 2013

Oleh: Moh. Za’imil Alivin*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s