Meluluhlantahkan Apatisme di Kalangan Mahasiswa

Diskusi bertemakan “ Meluluhlantahkan Budaya Apatis di Kalangan Mahasiswa “ ini dihadiri sekitar 19 mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Pendidikan Bahasa Arab. Diskusi ini berawal dari jam 20.00 WIB di Lorong Gedung B lantai 2 bagian Selatan. Diskusi ini diawali dengan cerita mas Eko selaku pemateri diskusi ini, mas Eko mengawalinya dengan menceritakan kisah perjalanan mantan Presiden Republik Indonesia ke-2, “ketika masa itu pak Soeharto sangat mendukung proses pembangunan, pak Soeharto selalu mendanai segala aktifitas tentang pembangunan, padahal misi beliau sebenarnya yaitu ingin mengebiri para mahasiswa di masa itu, pak Soeharto berfikir bahwa mahasiswa merupakan alat utama demi kemajuan suatu negeri”, jelas mas Eko di awal materi.

Dijelaskan juga mengenai arti apatis sesungguhnya. Apatis merupakan sikap tak peduli akan kondisi di sekitarnya. Terdapat 5 jenis mahasiswa di perkuliahan itu, pertama yaitu mahasiswa yang Hegemoni ( hidup penuh foya-foya), yang kedua mahasiswa yang akademis (unggul di bidang akademik, ketiga yaitu organisatoris ( unggul dalam non-akademik), keempat yaitu romantisme ( mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya untuk ber-romantisme saja) dan yang terakhir yaitu mahasiswa yang tau dan tak mau tau (Apatis).

Kesempatan kali ini, mas Eko lebih membicarakan tentang apatisme yang terjadi dalam dunia kuliah, banyak mahasiswa yang memiliki sifat Apatis, sebenarnya mereka mengerti bahwa apatis itu kurang baik untuk kalangan mahasiswa, tapi entah kenapa mereka tak mau bergerak untuk melepaskan gelar Apatisme mereka. Secara garis besar diskusi kami sangat menolak sifat apatisme yang terjadi di mahasiswa, kami berdiskusi tentang cara untuk meminimaliskan jumlah mahasiswa apatisme di mahasiswa.

Hingga menjelang pukul 09.00 diskusi ini semakin memanas karena adanya seorang mahasiswi dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris sering membantah atas pernyataan mas Eko bahwa mahasiswa yang aktifis itu buruk di akademis.

“ Kuliah itu ajang untuk mencari ilmu, bukan mencari bukti hitam di atas putih, nilai itu cuman bonus saja” ujar sang mahasiswi mengelak.

Aksi ini pun berkelanjutan dari salah satu mahasiswa dari jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

“ Seperti yang dikatakan oleh bapak Anies Baswedan mengenai sebuah ilmu, akademis itu cuman akan mengantarkan kita ke wawancara saja, ketika di tes, anak yang aktifis maupun organisatoris lah yang bisa menjawab soal secara dominan” tegas mahasiswa tersebut.

Diskusi pun berakhir karena ada sebagian mahasiswi yang harus kembali ke asrama sebelum jam 09.00 karena pintu akan ditutup pada jam tersebut. Diskusi berakhir dengan perasaan yang sedikit membingungkan di pikiranku, mau jadi mahasiswa yang manakah aku nantinya? Aku bingung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s