Nasionalisme pun masih ada

Jalanan di desa Sumberbendo siang ini tak seperti biasanya, hampir seluruh masyarakat sedang berkumpul di tempat yang telah di siapkan oleh sejumlah panitia. Ternyata keramaian ini disebabkan oleh acara yang sengaja di buat oleh para pemuda karang taruna desa tersebut. “ Awalnya kami cuman mengusulkan dan mendanai Panjat Pinang ini, ehh ternyata para karang tarunanya malah bikin seheboh ini “ ucap pak Parno selaku seksi acara. Acara ini berlangsung sejak pukul 14.00 WIB, acara yang diikuti oleh sebagian besar masyarakat mulai dari yang belum sekolah hingga yang sudah memiliki anak. Acara ini sebenarnya untuk menumbuhkan kembali sikap cinta tanah air yang di wujudkan dengan menggelar beberapa jenis permainan tradisional seperti panjat pinang, sunggi tempeh, tarik tambang, memasukkan pensil kedalam botol, bola terong dan masih banyak lagi lainnya.
Pertandingan pertama yaitu pukul air, ini merupakan salah satu jenis permainan yang menjadi langganan dalam acara 17 Agustus-an. Cara permainan ini yaitu, kedua mata kita harus di tutup dengan kain gelap ataupun hasduk pramuka, nah lalu pemain berjalan menuju air yang sudah di bungkus di sebuah kantong plastik. Kita hanya di beri tiga kali kesempatan untuk memukul bola- bola air yang terhantung di atas. Berseberang jalan terdapat perlombaan lainnya, yaitu lomba balap terong. Permainan kedua ini merupakan permainan dimana sebuah terong yang digantungkan di pinggang para kontestan, jadi para kontenstan harus berhati-hati dalam menggiring bola, karena peraturannya bola tidak di ijinkan untuk menyentuh seluruh anggota badan, jadi harus membutuhkan kesabaran.
Setelah lama menikmai dua pertandingan, panitia membuka lagi pendaftaran untuk lomba memasukkan pensil ke sebuah botol, permainan ini dilakukan dengan dua orang dan sebuah pensil yang di ikatkan di tengannya. Para peserta dilarang menyentuh pensil yang akan di masukkan, siapa yang memasukkannya dahulu yang akan maju ke babak selanjutnya. Di sisi sebelah kanan pun tak kalah heboh, sebuah perlombaan dengan bermodalkan tenaga, iya benar, tarik tambang yang diikuti oleh 5 orang per kelompoknya ini dikerumuni banyak orang yang berteriak-teriak menyuarakan tiap-tiap jagoannya. Satu persatu tim pun gugur di medan pertarungan, ternyata tidak hanya kita orang kampung saja yang mengikuti permainan ini, tapi 2 warga asing pun turut bergabung dalam ajang ini. Meskipun waktu menunjukkan sudah sore, tapi semangat warga desa Sumberbendo pun tak berkurang sedikitput, mereka sangat antusias sekali.
Permainan selanjutnya pun tak kalah seru dari permainan sebelumnya, perlombaan ini pun harus memilki keahlian khusus karena tidak semua orang bisa, mempertahankan keseimbangan yang harus menjaga agar itu tidak jatuh, yah bisa kita sebut nyunggi tempeh. Satu persatu para ibu-ibu pun menjatuhkan tempeh yang sudah berisikan sekitar 7 butir kelereng. Akupun turut serta dalam permainan ini, entah kenapa di awal pertandingan aku jadi teringat ketika aku masih kecil dahulu ketika aku juga mengikuti permainan ini beberapa tahun yang lalu. Permainan yang sangat sulit di temukan, kalaupun ada ketika ada kegiatan 17 Agustus.an seperti ini dan itupun tak semua daerah merayakan kemerdekaannya seperti ini.
Lanjut ke perlombaan yang sudah di tunggu-tunggu oleh banyak orang, bisa dibilang kalau ini juga merupakan puncak kegiatan hari ini. Dalam satu tim terdiri dari 3 orang yang pesertanya tidak di ijinkan mengenakan celana panjang dan memakai kaos atau pelindung badan laainnya. Panjat pinang ini dilakukan tepat perempatan desa Sumberbendo ini sudah dikerumuni oleh hampir semua penduduk desa, peserta yang mengikuti permainan ini kebanyakan para bapak-bapak karena hanya terdapat sedikit sekali pemuda yang mau ikut. Terdapat sekitar 10 tim, tapi hingga akhir belum ada yang bisa mencapai puncak untuk meraih selembar kertas yang sudah di sediakan. Hingga panitia akhirnya memberi kebijakan bahwa yang sudah memanjjat di ijinkan untuk memanjat sekali lagi, antusiasme para warga dan peserta pun semakin meningkat. Seperti kejadian yang sebelum-sebelumnya, belum ada yang bisa meraih puncak dan mengambil amplop-amplop yang di sediakan oleh panitia.
Hingga menjelang Maghrib, akhirnya panitia mengijinkan para peserta untuk memakai kaos atau pakaian lainnya, dengan syarat dalam satu kelompok hanya di ijinkan seorang saja untuk memakai kaos tersebut. Entah karena apa, setelah adanya bantuan kaos tersebut satu persatu kelompok pun berhasil mengambil amplop yang bergelantungan seakan memanggil para peserta untuk segera naik, satu persatu pun berhasil mendapatkannya. Hingga lewat maghrib acara ini pun masih tetap berlangsung ramai, tepukan-tepukan warga desa Sumberbendo meramaikan malam yang bertabur bintang. Di bawah kaki Gunung Puteri Tidur ini sebuah aktivitas sebagai bukti nasionalisme telah di hidupkan kembali.
1119952_492181564204835_895644166_o

1091051_492180547538270_730423972_o

1091062_492179984204993_1924806511_o

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s