Lumpurku pun belum usai

Sudah sekitar 7 tahun sudah genangan Lumpur Panas Lapindo menenggelamkan beberapa desaku, desa kawan-kawanku di kawasan Porong Sidoarjo. Mulanya lumpur tersebut disebabkan oleh kesalahan dalam pengeboran minyak oleh salah satu perusaan besar di kawasan Sidoarjo. Iya, PT LAPINDO, merupakan salah satu perusahaan yang dimiliki oleh seseorang yang taka sing lagi di telingan kita. Abu Rizal Bakrie, termasuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Tak diragukan lagi betapa melimpahnya harta kekayaan beliau.

Berbagai berita mulai dari media cetak, media elektronik pun tak segan segan menyebarkan permasalahan ganti rugi yang terus menerus ditagih oleh para korban Lumpur ini. Warga yang rumahnya tenggelam, tak henti-hentinya melakukan berbagai aksi protes tentang tanah yang dijanjikan tersebut. Pemerintah menjanjikan akan mengganti rugi sesuai dengan haknya masing-masing. Berbagai upaya pun sudah dilakukan, seperti membuat tanggul di sekitar lumpur, pembuatan perumahan yang nantinya dapat dijual untuk para korban Lumpur Lapindo. Tapi apa daya, semua itu tidak bisa dirasakan oleh semua korban.

Setelah 7 tahun ini kabar mengenai Lumpur Lapindo sudah tak terdengar lagi, menyatakan bahwa semua korban telah mendapatkan ganti rugi sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Selama 7 tahun pula lumpur ini mengendap dan menjadi sebuat tujuan obyek wisata. Hingga terungkap sebuah kebenaran dari mulut salah satu warga Besuki yang sekitar 300 hektar tanahnya belum diganti rugi. Seorang yang berumur sekitar 40 tahunan inilah yang mencetuskan pembuatan sebuah komunitas yang mayoritas anggotanya merupakan korban Lumpur Lapindo 7 tahun silam.

Cak Irsyad, seorang yang mempelopori kegiatan komunitas kecil di kawasannya, kini telah mengobati sedikit luka di kalangan anak-anak dengan membimbing mereka dalam berkarya, khususnya dalam alat-alat perkusi. Mengajarkan anak untuk berani tampil di depan umum menyuarakan aspirasinya dengan damai. Dengan di bantu oleh beberapa rekannya, cak Irsyad berhasil mengantarkan anak didiknya untuk bisa berkali-kali tampil di ibukota kita, Jakarta. Mengikut sertakan anak-anak ini menjadi sebuah obat baginya dan kawan-kawan, maupun orang tua dari anak-anak tersebut. Tak terbayang oleh sebagian orang bahwa wajah imut mereka merupakan korban ketidakadilan di negeri ini.

“ Terdapat sekitar 33 sekolah belum mendapatkan ganti rugi sama sekali, sebenarnya dimana orang-orang berdasi yang duduk di kursi empuk pemeritahan? “ Ungkap cak Irsyad di salah satu stasiun televise beberapa waktu lalu (12/06).

Sungguh tak pernah di duga sebelumnya bahwa korban Lumpur Lapindo masih banyak yang belum terbayarkan haknya. Tercatat sebanyak 33 bangunan sekolah belum di ganti rugi. Inilah yang mengakibatkan berpindahnya hamper seluruh desa di kawasan Besuki, mereka meninggalkan kawasan tersebut untuk menata kembali keluarga mereka di tanah yang baru, dengan kehidupan yang baru pula. Ini sempat di bahas juga dalam diskusi saya bersama rekan-rekan saya beberapa waktu lalu (30/06). “ Sebenarnya ketika warga sudah di ganti rugi dan di beri uang, justru itu akan menimbulkan masalah baru, karena apa? Karena pemerintah sudah tak mau peduli lagi, wong wes di ganti rugi ( kan sudah di ganti rugi) “. Cak Irsyad juga menceritakan bahwa ada salah satu teman sekampungnya meninggal gara-gara tidak sanggup membayar hutang-hutangnya di sebuah took bangunan di kawasan tempat tinggalnya yang baru setelah mendapatkan ganti rugi. Ketidakcocokan antara tempat tinggal dan lingkunganlah yang menyebabkan sering bongkar-bongkar bangunan yang memakan tidak seidikit tenaga, waktu maupun uang. Inilah yang di maksudkan dengan masalah baru yang timbul setelah perolehan ganti rugi yang di terima oleh temanya itu.

Kalau selama ini masih banyak tanah warga yang belum di bayarkan, lalu apa yang sudah di lakukan oleh para pejabat-pejabat kita yang bersinggah di gedung megah di ibukota sana? Tidakkah mereka menengok atas kejadian beberapa waktu silam? Butuh berapa tahun lagi agar hutang-hutang ini bias terbayarkan dan tak menimbulkan masalah baru? Korban Lumpur Lapindo hanya bisa pasrah dengan sikap pemerintah yang selalu menunda untuk membayarkan ganti rugi ini. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s