Berjuang itu Harus !!!

images (5)

Masih teringat olehku kejadian beberapa hari yang lalu, ketika aku akan berangkat ke Kota Malang, aku berpamitan ke salah seorang guruku, sebut saja beliau pak Zam. Ketika berpamitan beliau lalu ingat dan segera menyuruhku untuk membuat sertifikat mengenai posisiku di kursusan Bahasa Inggrisnya, dan juga salah satu ekstrakurikular di sekolah. Hingga akhirnya rencana berangkat Senin pagi ini (10/06) aku tunda, yang  InsyaAllah besok harus segera aku kirim.

Aku sangat berterima kasih kepada salah satu adik kelasku yang rela pulang terlambat  demi membantuku membuat sertifikat , dia Alfian, dia juga seorang pengajar di  kursusan pak Zam, dia berperan penting dalam bidang design, tak salah jika aku memintanya untuk membuatkan sertifikat seperti yang diamanatkan oleh pak Zam. Rasa bersalah pun sempat terlintas di benakku, aku melihat raut wajah yang sudah mulai suntuk, dan juga lelah menghampiri wajahnya. Hingga menjelang pukul 12 malam, akhirnya 2 seritikat tersebut jadi, tinggal tugasku untuk mencetaknya besok.

Selasa pagi (11/06) aku sengaja berangkat lebih awal ke sekolah, aku harus segera mencetak sertifikat ini. Sekitar pukul 07.00 WIB aku meninggalkan rumah.  Sesampainya di sekolah ternyata aku terlambat, Kepala sekolah sudah pergi entah kemana. Pak Zam berusaha agar aku tetap bisa mendapatkan tanda tangan beliau, tapi itu percuma. Dengan sebuah buku di tangan, aku menunggu hingga kepala sekolah datang. Hingga 2 jam aku menunggu akhirnya aku memutuskan untuk segera berangkat, aku tak mau aplikasi ini terlambat sampai di Malang. Berbekal nekat dan kecewa karena satu dari sertifikat tersebut tidak terpakai. Aku berangkat. Bismillah . . .

Aku tak mengerti tentang kejadian hari ini, mungkin hari tersebut aku sedang sial, betapa tidak, pertama masalah sertifikat yang menyebabkan pertentangan antar guru, dan kedua, hujan sedang menemani perjalananku menuju Kota Malang, ketika hujan mulai reda, aku berniat menepi untuk melepaskan jas hujan yang sedari tadi melindungiku dari hujan. “Prakkkkk . . . .” Bunyi helmku yang mental ke belakang, segera menepi.

“Syukurlah helmku tidak terlindas truk di belakangku tadi, fiuhhh. .” , meskipun atasnya sedikit rusak dan tali pengamannya lepas, aku tetap harus melanjutkan perjalanan ini. Demi masa depanku. Demi beasiswa ini, dan juga untuk orang tuaku.

Adhan Dhuhur pun berkumandang seakan menyambutku di Kota Malang ini, aku sudah sampai di tempat tujuanku, Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. Seorang teman sudah Nampak di kejauhan, seorang mahasiswa semester 4 jurusan Sastra Inggris bernama Iswatin Chasanah, aku memanggilnya “mbak Is “. Sambil menunggu Gedung Sport Center  buka kembali, aku mampir sejenak untuk bersinggah di kamar beliau. Kulepaskan lelahku sambil memeriksa ulang berkas yang akan aku kumpulkan. Pasca Sholat Dhuhur kami pun segera beranjak menuju bagian kemahasiswaan di Gedung Sport Center, tempat di mana aku harus mengumpulkan berkas ini. Aku berdoa supaya apa yang aku lakukan hari ini akan membuahkan hasil yang manis di kemudian hari.

Hari semakin siang, dan rasanya cacing di perutku juga sudah mulai ber-demo. Kami putuskan untuk makan di salah satu warung di luar kampus. Semangkuk bakso dan segelas es teh manis memenuhi meja kecil kami. Rencana pulang sore ini berhasil di gagalkan oleh mbak Is, dia mengajakku untuk menginap di tempat kos mbak Mey, salah satu murid pak Zam yang juga mengajar di kursusannya. Pesan singkat pun segera aku layangkan ke bapakku di rumah untuk meminta ijin pulang besok pagi,  bapakku pun mengijinkannya. “ Hati-hati di Malang “, begitu balasnya.

Berkumpulnya 3 gadis di kamar kos ini menjadikan suasana yang tak biasa, saling bercerita mengenai pengalaman diri selama kuliah, “hmmm . . . Sungguh obrolan yang aku sama sekali belum faham “, sambil geleng geleng dan terus mendengarkan. Adzan Isya pun usai di dengarkan, mbak Is harus berpamitan karena harus kembali ke asrama. Pembicaraan pun tetap kami lanjutkan meskipun mbak Is sudah pulang. Entah sudah berapa  jam sudah mulut ini bercerita, secangkir kopi pun telah habis, rasanya kami sudahcukup lama mengobrol, dan kami harus istirahat karena perjalan besok, dan mbak Mey pun harus kuliah.

Pagi ini aku pun pulang, pengalaman yang aku dapat kemarin mungkin tak akan terlupakan, aku bercerita banyak tentang diriku. Awalnya jalanan Kota Malang pun berjalan dengan normal, hingga kulihat ada mobil polisi di belakangku.

“Lohh mbak ada polisi “, kataku kaget.

“ Kamu sihh nun, udah dibilangin kok, tau gitu kan aku jalan aja ke kampusnya, tuhh ada polisi ,, “ ulas mbak Mey.

Ketakutan kami pun hilang ketika melihat mobil polisi ituberhenti pas di depan kotak ATM di Universitas Brawijaya, ternyata sempat ada pembobolan ATM di sana, terlihat sekerumunan orang dan satpam sedang mengepung seorang lelaki yang di duga sebagai tersangka. Kami pun berlalu dengan perasaan lega.

Sepertinya musibah kemarin belum berhenti juga, sepulang dari mengantar mbak Mey ke kampus, aku terjebak macet, lepas Terminal Arjosari hingga kawasan Purwosari, waw. . . jarak yang biasanya dapat aku tempuh 1,5 jam kini menjadi sekitar 4 jam. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan.Tak cukup sampai di situ, motor yang aku kendarai tiba-tiba berhenti di jalan setelah belokan perumahan The Taman Dayu, setelah aku cek ternyata businya mati. Karena tak ada bengkel di sekitar situ, aku pun mendorong motor ini, hingga sekitar  200 meter aku melihat ada plakat bengkel sepeda motor. Alhamdulillah.Sekitar setengah jam di utak atik oleh mekaniknya, aku pun menyerahkan selembar uang sepuluh ribu dan ribuan untuk mengganti busi yang aku beli tadi. Aku pun langsung melanjutkan perjalanan pulang yang sempat terhenti beberapa waktu lalu.

Alhamdulillah aku sudah sampai, sekitar jam 12 siang. Hmmm . . . perjalanan yang jarak tempuhnya hampir sama ketika aku pulang kampung ke Madura. Harapanku semoga apa yang aku lakukan ini akan membuahkan hasil yang seimbang dengan ini.

Kalaupun nantinya aplikasinya tidak lolos, berarti ada orang lain yang perjuangannya lebih dari aku. Beasiswa ini memberikan pengalaman berarti buatku, kalau tidak karena ini, mungkin aku tak akan merasakan arti sebuah perjuangan untuk mendapatkan sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s